Sumedang, 13 Desember 2025 – Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui program World Class University Community Development SDGs dan Program EQUITY (Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition) sukses menyelenggarakan workshop bertajuk “Penerapan Suplementasi Zeolit Alam untuk Meningkatkan Produktivitas Susu Berkelanjutan pada Peternak Sapi Perah dalam Mendukung SDG 2, 12, 17 (Zero Hunger, Responsible Consumption and Production, Partnerships for the Goals)”. Kegiatan yang berlangsung di Kampus ITB Jatinangor pada Sabtu (13/12/2025) ini dipimpin langsung oleh Dr. rer. nat. Rino Rakhmata Mukti, S.Si., M.Sc. selaku ketua pelaksana. Dalam pelaksanaannya, tim ini turut diperkuat oleh perwakilan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB, Dr.rer.nat. David Prambudi Sahara, S.T, M.T., serta melibatkan tim mahasiswa yang terdiri dari Dian Hutami Wahyudi dan Anita Kulsum. Acara ini menjadi langkah strategis untuk menginisiasi kolaborasi lintas sektor guna mendorong penerapan hasil riset ke ranah praktis bagi peternak.
Menjawab Tantangan Peternak Rakyat Kegiatan ini dirancang khusus untuk merespons tingginya kebutuhan susu nasional yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh produksi dalam negeri. Selama ini, peternak sapi perah dihadapkan pada dilema tingginya biaya pakan serta risiko gangguan pencernaan pada ternak, seperti asidosis rumen, yang secara langsung berdampak pada menurunnya produktivitas susu. Fenomena ini diperparah oleh fluktuasi harga bahan pakan konsentrat yang sering kali tidak sebanding dengan harga jual susu di tingkat peternak. Oleh karena itu, diperlukan inovasi berbasis material lokal yang terjangkau namun memiliki efikasi tinggi untuk menjaga kesehatan ternak sekaligus menekan biaya operasional harian.
Solusi yang ditawarkan dalam workshop ini adalah pemanfaatan zeolit alam. Zeolit dikenal memiliki kemampuan adsorpsi dan pertukaran ion yang sangat tinggi. Karakteristik ini menjadikannya sangat efektif untuk menjaga kestabilan lingkungan rumen, meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien pakan, serta mendukung kesehatan pencernaan sapi secara keseluruhan. Lebih dari itu, dari aspek keberlanjutan lingkungan, penggunaan zeolit dalam pakan terbukti mampu mengurangi emisi amonia dari limbah peternakan, yang sering kali menjadi masalah polusi bau dan gas rumah kaca di lingkungan pedesaan. Dengan mengikat amonia berlebih, zeolit tidak hanya memperbaiki kualitas kesehatan sapi, tetapi juga mengubah limbah ternak menjadi pupuk organik yang lebih bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.
Kolaborasi Lintas Institusi dan Pendampingan Aktif Acara ini mencerminkan sinergi nyata antar pemangku kepentingan. Selain ITB sebagai penyelenggara, kegiatan ini menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Padjadjaran (Unpad) sebagai mitra perguruan tinggi, yang membawa keahlian spesifik di bidang nutrisi ternak dan manajemen kesehatan hewan. Dari sektor industri, PT Paragon Perdana Mining hadir sebagai penyedia zeolit alam, memastikan bahwa material yang digunakan memiliki standar kualitas yang tepat untuk konsumsi ternak. Sementara itu, dari unsur masyarakat, hadir Koperasi Produsen KSU Tandangsari, Koperasi Susu Indonesia, serta perwakilan kelompok peternak sapi perah dari wilayah Tandangsari dan Ujung Berung. Sebagai bentuk integrasi tridarma perguruan tinggi, tim mahasiswa ITB yang terlibat turut berperan aktif mulai dari persiapan, penyusunan materi penyuluhan, hingga pendampingan peserta selama workshop berlangsung, memberikan pengalaman belajar lapangan yang berharga bagi pengembangan kompetensi mereka.
Sesi Pemaparan dan Antusiasme Peserta Rangkaian acara dibuka dengan khidmat menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan sambutan dari tokoh-tokoh kunci: Dr. Rino Rakhmata Mukti (Perwakilan ITB), Suwardi (Mewakili IPB), David Prambudi Sahara (DPMK ITB), serta Toto, S.Pd. (Ketua KSU Tandangsari). Dalam pidatonya, Dr. Rino menegaskan bahwa inovasi laboratorium harus bisa menjembatani kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan peternak. Ia menekankan bahwa riset yang hanya berhenti di jurnal ilmiah tidak akan memiliki nilai bagi masyarakat jika tidak dilakukan hilirisasi melalui pendampingan langsung.
Memasuki sesi utama, Prof. Masyur dari Unpad memaparkan secara mendalam mengenai fungsi zeolit yang dicampurkan ke dalam ransum ternak untuk menjaga keseimbangan nutrisi. Ia menjelaskan bagaimana mekanisme kimiawi zeolit bekerja di dalam rumen untuk menyeimbangkan pH, yang krusial bagi sapi perah dengan produktivitas tinggi. Sesi ini diperkuat oleh pemaparan Prof. Nahrowi dari IPB yang membahas formulasi pakan berbasis zeolit alam serta peluang penerapannya pada skala peternakan rakyat. Diskusi berjalan sangat interaktif; para peternak secara antusias menggali informasi mendetail terkait mekanisme kerja zeolit, dosis pencampuran, hingga dampaknya terhadap produksi susu. Beberapa peternak bahkan berbagi pengalaman mengenai kendala kesehatan ternak yang mereka hadapi selama ini, yang kemudian dijawab dengan rekomendasi praktis oleh para pakar.
Langkah Implementasi Berkelanjutan Sebagai wujud komitmen nyata, workshop diakhiri dengan penyerahan simbolis sekaligus distribusi zeolit alam dari perwakilan ITB, Unpad, dan PT Paragon Perdana Mining kepada pihak koperasi dan kelompok peternak. Turut diserahkan pula modul penyuluhan komprehensif sebagai panduan praktis peternak agar implementasi di kandang masing-masing dapat dilakukan dengan standar prosedur yang benar. Ke depannya, kolaborasi ini diharapkan menjadi landasan kuat untuk implementasi, pendampingan, serta evaluasi berkelanjutan di berbagai sentra peternakan sapi perah di seluruh Indonesia. Tim pelaksana berkomitmen untuk terus memantau perkembangan kesehatan ternak dan volume produksi susu dari para peserta workshop, guna mengukur keberhasilan program ini secara kuantitatif sebelum nantinya direplikasi ke skala yang lebih luas guna mendukung kemandirian susu nasional.