Penulis:
Dr. Prima Roza, S.E, M.Ed. Admin
Dosen KK Ilmu-Ilmu Kemanusiaan FSRD, ITB
Eksistensi Mangrove dan Ironi di Indonesia
Kini, gejolak dunia tak pernah luput membahas isu ‘Perubahan Iklim’ yang menjadi makin sensitif. Isu yang tampak seperti bayangan, makin dikejar justru makin jauh hasil dari harapan penanganannya. Upaya global dan regional terus diupayakan melalui bermacam pembahasan di forum besar tahunan seperti Conference of Parties (COP), Intergovernmental Panel of Climate Change (IPCC), Asia-Pacific Climate Change Adaptation (APAN), dan banyak lainnya. Selain adaptasi dan mitigasi, pembahasan krusial lainnya adalah bagaimana menekan laju peredaran karbon di atmosfer yang kian meresahkan akibat pola perilaku manusia.
Indonesia patut bersyukur karena secara alami memiliki alternatif penyimpan karbon yaitu berupa kekayaan hutan hujan tropis yang bahkan tidak dimiliki oleh negara-negara beriklim sub-tropis. Menjadi lebih strategis posisinya bagi situasi global karena Indonesia rumah bagi 75% spesies mangrove dunia dan 20% dari jumlah luas lahan mangrove global. Perlu diketahui bahwa hutan mangrove mampu menyerap dan menyimpan karbon 4 kali lebih tinggi dibanding hutan tropis.
Menjadi ironi ketika dunia bergantung pada konservasi mangrove di Indonesia, justru luasan lahannya terus mengalami degradasi ekstrem yaitu sebesar 1 juta hektar dalam 4 dekade terakhir. Kerusakan ini paling besar dipicu oleh faktor antropogenik yaitu aktor manusia dalam melakukan alih fungsi lahan dengan dalih pembangunan seperti infrastruktur pariwisata, tambang, maupun tambak tanpa memperhatikan aspek keberlanjutan. Pada akhirnya, harga dari kerusakan ekosistem tidak akan sanggup terbayarkan oleh pembangunan semu. Atas dasar prinsip ekologi dan potensi ekonomi yang bisa digali dari eksistensi, maka dibutuhkan campur tangan akademisi guna menyeimbangkan posisi mangrove di lingkungan dan bagi manusia.
SPACEMANGROVE Sebagai Model Resolusi di Kalimantan Utara
Bagi Dr Prima Roza (KK Ilmu Kemanusiaan ITB), mangrove adalah organ yang menopang ruang hidup bermacam habitat organik termasuk manusia itu sendiri. Ditengah maraknya alih fungsi lahan dan kerusakan ekosistem pesisir, Dr Prima Roza menyiapkan tim lintas bidang ilmu dan membangun keyakinan bersama untuk mengembalikan fungsi ekologi mangrove dan bahkan mentransformasinya menjadi mesin penggerak ekonomi masyarakat pesisir dengan tetap menerapkan prinsip keberlanjutan. Proyeksi dimulai sejak 2024 dengan menerapkan metode budidaya silvofishery di tambak udang yang terbengkalai di KEE Teluk Pangpang Banyuwangi. Yaitu pembudidayaan kepiting di ekosistem mangrove memanfaatkan tambak yang sudah ditinggalkan. Konsepnya adalah mengembalikan habitat mangrove sebelum alih fungsi lahan dengan menambahkan budidaya komoditas bernilai ekonomi bagi masyarakat yaitu kepiting bakau. Tahun berikutnya, tim turut berperan dalam pemasaran diversifikasi produk olahan mangrove (buah dan daun) yaitu sirup, tepung, keripik, dan teh yang dilakukan oleh kelompok binaan di Desa Wringinputih, Banyuwangi.
Bermodalkan pengalaman dan ilmu yang sudah dibangun sebelumnya, tim peduli mangrove bentukan Dr Prima Roza kemudian siap menerima tantangan dari Srinanti di Kecamatan Sei Menggaris, Kalimantan Utara untuk memaksimalkan fungsi dan potensi pengelolaan hutan mangrove. Isu yang berkembang adalah pembalakan liar kayu mangrove karena keterbatasan nelayan lokal untuk memantau area hutan mangrove desa seluas 4.985 hektar.
Tanggungjawab ini menjadi sangat besar apabila dipikirkan sendiri, maka Dr Prima Roza menggandeng akademisi lintas perguruan tinggi dari Universitas Brawijaya untuk bergabung dalam tim. Hasil observasi oleh tim memberikan analisis bahwa model rehabilitasi yang sesuai untuk kondisi hutan mangrove di Desa Srinanti adalah konservasi yang diintegrasikan dengan ekowisata mangrove berupa atraksi susur dan edukasi mangrove menggunakan perahu motor. Harapannya adalah pelaku pembalakan liar tidak berani melakukan aksinya karena ada kontrol sosial dari aktiviitas pariwisata di kawasan mangrove. Nilai tambahnya adalah Desa Srinanti mendapat pemasukan secara ekonomi dari aktivitas pariwisata dan menghidupkan kreativitas pemuda setempat. Karena memadukan analisis keruangan dan kontribusi komunal, maka lahirlah model yang bernama SPACEMANGROVE (Spatial and Community-Based Ecotourism Mangrove) prototipe pertama.
Kegiatan Space Mangrove merupakan program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Desa Srinanti, Kecamatan Sei Menggaris, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Program ini berfokus pada pemanfaatan potensi kawasan mangrove milik desa sebagai destinasi ekowisata yang berkelanjutan, sehingga mampu menarik minat masyarakat lokal maupun wisatawan dari luar daerah.
Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong transformasi Desa Srinanti menjadi desa yang mandiri dan berdaya saing, serta berkontribusi dalam memperkuat ketahanan wilayah perbatasan negara melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, terdapat tiga kegiatan utama yang dilakukan, yaitu:
Kegiatan pertama adalah Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan tokoh masyarakat, para pemangku kepentingan setempat, serta mahasiswa KKN Universitas Borneo Tarakan. FGD ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendiskusikan potensi kawasan mangrove Desa Srinanti, termasuk peluang pengembangan ekowisata yang dapat meningkatkan daya tarik dan eksistensi desa di tingkat yang lebih luas. Selain itu, dalam forum ini juga dilakukan penyepakatan terkait delineasi kawasan konservasi mangrove yang akan dikelola oleh desa, guna menghindari tumpang tindih pengelolaan dengan lembaga atau pihak lainnya.
Kegiatan kedua adalah survei rencana rute susur mangrove yang dilaksanakan secara langsung di kawasan mangrove yang berada dalam wilayah pengelolaan desa. Survei ini dilakukan sepanjang kurang lebih 16 kilometer, mencakup area hutan desa sebagaimana tercantum dalam peta Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dalam kegiatan ini dilakukan geotagging terhadap spesies mangrove yang ditemukan di sepanjang rute, serta pencatatan lokasi biodiversitas lainnya, seperti habitat bekantan dan berbagai spesies burung. Selain itu, tim pengabdian juga melakukan pendataan dan geotagging fasilitas penunjang pariwisata, termasuk titik rencana papan informasi, lokasi penginapan, peta kawasan wisata, dan sarana informasi lainnya. Kegiatan ini turut didukung oleh pemetaan foto udara wilayah Desa Srinanti untuk memperkuat basis data spasial pengembangan ekowisata.
Kegiatan ketiga adalah penyuluhan dan pelatihan pembuatan konten digital. Pelatihan ini mencakup pemaparan materi mengenai teknik pembuatan konten yang efektif, tips dan strategi pengembangan konten digital, demonstrasi pembuatan video, teknik dasar pengambilan foto dan video, hingga proses penyuntingan dasar. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat, khususnya generasi muda desa, dalam mempromosikan potensi ekowisata mangrove melalui media digital secara kreatif dan berkelanjutan.
Dalam kegiatan ini, tim menerapkan berbagai teknologi geospasial untuk mendukung perencanaan dan pengembangan Desa Srinanti sebagai desa ekowisata berbasis mangrove. Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk memetakan rute susur mangrove serta mengidentifikasi dan mendokumentasikan fasilitas penunjang yang akan dikembangkan ke depannya.
Pengumpulan data lapangan dilakukan menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS) untuk melakukan geotagging terhadap spesies mangrove yang ditemukan di kawasan tersebut, beserta pencatatan biodiversitas lainnya. Data spasial ini menjadi dasar dalam penyusunan rute wisata edukatif yang informatif dan berbasis konservasi.
Selain itu, tim juga memanfaatkan teknologi drone untuk melakukan pemetaan foto udara. Hasil pemotretan udara ini menghasilkan peta Desa Srinanti dengan resolusi tinggi yang dapat digunakan sebagai dasar perencanaan tata kelola kawasan ekowisata secara lebih akurat dan terintegrasi.
Sebagai pelengkap data lapangan, teknologi citra satelit digunakan sebagai data sekunder untuk mengestimasi cadangan karbon (carbon stock) pada kawasan mangrove primer yang dikelola desa. Informasi ini menjadi nilai tambah strategis, karena dapat memberikan gambaran ilmiah mengenai peran mangrove dalam penyerapan karbon dan mitigasi perubahan iklim, sekaligus meningkatkan daya tarik kawasan bagi masyarakat luas dan calon mitra.
Seluruh data tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam sebuah platform WebGIS, yaitu sistem informasi geografis berbasis website yang menyajikan informasi peta karbon, rencana rute susur mangrove, sebaran jenis mangrove, serta data biodiversitas. WebGIS ini dirancang sebagai media informasi dan promosi digital untuk memperluas jangkauan publikasi Desa Srinanti, sekaligus mendukung optimalisasi Search Engine Marketing (SEM) ekowisata mangrove di masa mendatang.
Tanggapan Perwakilan Masyarakat
"Kalau wisata ini bisa jalan, warga juga bisa menambah penghasilan mulai dari jasa perahu, konsumsi, sampai produk lokal. Karena itu, kami sepakat mangrove ini sumber daya yang menjanjikan, jadi harus kita jaga sama-sama"
— Rusmini, Kepala Desa Srinanti, Nunukan
“Kegiatan pemetaan ini bikin kami jadi lebih peduli, sekaligus lebih paham batas mangrove yang memang bisa kami kelola. Jadi kami tidak asal mengelola kawasan yang ada. Di sekitar desa sebenarnya mangrove cukup banyak dan tersebar, tapi sebelumnya kami belum tahu dengan jelas bagian mana yang aman dan sesuai untuk dikembangkan jadi wisata. Berkat pendampingan tim Desanesha, kami jadi lebih siap mengembangkan Srinanti sebagai desa wisata dengan mengelola area yang tepat. Bukan cuma batas mangrove, kami juga jadi lebih paham dan peduli soal batas desa yang ada”
— Risna, Pengajar SMP di desa Srinanti
"Dulu kami merasa Desa Srinanti sudah sangat siap jadi desa wisata. Tapi setelah tim Desanesha datang, kami jadi sadar masih banyak yang perlu kami benahi. Mulai dari keterlibatan pemuda-pemudi karena selama ini yang paling paham kondisi mangrove justru para tetua lalu kondisi kapal yang perlu ditingkatkan sebagai transportasi untuk susur mangrove di perairan. Kami juga perlu menyiapkan penginapan dengan lebih baik, sekaligus informasi yang lebih jelas untuk pengunjung. Selain itu, kami ingin mengembangkan spot wisata lain, misalnya kafe atau titik singgah yang nyaman. Karena itu, kami berharap ada kunjungan lanjutan supaya bisa survei lebih mendalam terkait wilayah mangrove kami, mengetahui sebaran bekantan dengan lebih baik, dan mendapat pembekalan agar masyarakat makin siap menjadi desa wisata"
— Richi, Ketua Pokdarwis Desa Srinanti
"Terima kasih untuk tim Desanesha. Kami jadi paham kalau bikin konten itu bukan cuma ambil video lalu edit saja, tapi ada banyak pertimbangan dan langkah yang perlu dipikirkan. Kami jadi belajar banyak hal yang sebelumnya belum pernah kami dapatkan"
— Zhafran, Murid SMP di Desa Srinanti
SPACEMANGROVE dan Keberlanjutannya
Sebagai prototipe model pertama, tentu SPACEMANGROVE - I memiliki banyak kekurangan dan masih harus mengalami perbaikan. Celah tersebut diharapkan dapat terisi dari partisipasi aktif masyarakat Desa Srinanti untuk memberikan umpan balik kepada tim peneliti untuk memaksimalkan peran SPACEMANGROVE dalam mendorong ekowisata mangrove yang berkelanjutan. Di masa mendatang, model ini diharapkan juga dapat disesuaikan dan adaptif dengan kondisi hutan mangrove lokal di kawasan Indonesia lainnya.