Teknologi Budikdamber, Jawaban Kebutuhan Gizi Anak di Pelosok Negeri

Penulis:
Ivonne Milichristi Radjawane Ph.D
(Dosen KK Oseanografi Lingkungan dan Terapan FITB, ITB)

Tentang Kabupaten Ngada

Secara geografis Kabupaten Ngada terletak di Pulau Flores, diapit oleh Laut Flores dan Laut Sawu yang kaya keanekaragaman hayati ikan pelagis di bagian utara dan selatan memberi keuntungan perikanan tangkap bagi masyarakat Ngada. Sumber protein hewani ikan adalah salah satu yang terbaik guna memenuhi kebutuhan gizi di tengah isu stunting. Sayangnya, keterbatasan distribusi membuat masyarakat yang tinggal di daerah dataran tinggi sulit untuk mengkonsumsi ikan laut. Namun, perlu diketahui pula bahwa di Ngada juga terdapat 2 gunung yaitu Inerie dan Ine Lika yang membuat tanah di dataran tinggi juga subur kaya akan mineral untuk dimanfaatkan budidaya ikan air tawar. Proses geologis di masa lalu dalam terbentuknya gunung, yaitu jalur aliran lahar, kini beralih fungsi menjadi jalur sungai dari hulu yang membawa keanekaragaman hayati di sepanjang alirannya hingga ke hilir.

Secara teori, dalam melihat kondisi bentang alam di Ngada, potensi budidaya ikan air tawar nampak menjanjikan untuk menghidupi masyarakat yang tinggal di dataran tinggi. Namun, dalam implementasinya banyak menemukan hambatan yang cukup terjal. Isu paling utama, jumlah sarjana hanya sebesar 6.62% dari total populasi di Kabupaten Ngada yang pada akhirnya menghambat masuknya ilmu maupun teknologi guna memajukan daerah dari sektor perikanan darat. Selama ini benih ikan air tawar didatangkan dari luar kabupaten seperti dari Kupang maupun Ende dengan konsekuensi biaya yang tinggi harus dikeluarkan.

Perbedaan situasi antara daerah pesisir dengan pegunungan dalam memenuhi protein hewani, akibat ketimpangan sumberdaya, mempengaruhi angka stunting yang tidak merata di kabupaten Ngada. Menurut penuturan Bupati Ngada, Raymundus Bena, tingkat prevalensi stunting meningkat dari tahun 2024 yang sebelumnya di kisaran 9% menjadi kurang lebih 13%. Angka tersebut lebih besar disumbangkan dari kawasan pegunungan dibandingkan kecamatan atau desa yang terletak di daerah pesisir. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan empiris untuk menyelesaikan permasalahan stunting yang dihadapi oleh rumah tangga masyarakat Ngada khususnya yang tinggal di dataran tinggi dalam memenuhi gizi hariannya.

Alternatif Pemecahan Masalah

Kabupaten Ngada berada diantara dua kabupaten yang cukup maju yaitu Manggarai Barat dan Ende. Suplai logistik sangat bergantung pada daerah lain, sementara industri lokal juga belum bisa membuat Ngada menjadi daerah yang mandiri. Tidak hanya teknologi, tapi juga infrastruktur di Ngada masih berada di bawah kualitas Kabupaten Ende dan Manggarai Barat. Demikian, untuk memecahkan permasalahan yang ada harus diawali dengan pendekatan teknologi yang sederhana dan ekonomis namun membawa dampak besar untuk menyelesaikan permasalahan. Melihat situasi yang ada, Dr Ivonne dan tim kemudian menyusun desain teknologi tepat guna sesuai dengan kondisi masyarakat di Ngada. Selanjutnya, setelah analisis studi kasus, dibuat kerangka desain metode budidaya ikan dalam ember (budikdamber) yang juga diintegrasikan dengan budidaya hidroponik pada medianya. Kelebihan metode ini terletak pada material yang mudah didapat di pasar, biaya yang ringan, dan mudah diduplikasi.

Langkah pertama adalah menyiapkan ember yang sudah disterilkan dan dimodifikasi bagian bawah ember (5-8 cm) dengan keran air. Selanjutnya tinggal menebar benih ikan lele atau nila sesuai dengan ukuran benih terhadap volume ember yang digunakan. Pada bagian tutup ember dapat dipasang media hidroponik berupa gelas plastik untuk penanaman sumber protein nabati yang berasal dari sayuran bayam ataupun kangkung.

Gambaran Kegiatan Pengabdian Masyarakat

Kegiatan pelatihan budikdamber oleh tim pengabdian masyarakat ITB dilaksanakan di aula rumah dinas jabatan bupati pada tanggal 1 Juli 2025 yang dihadiri oleh seluruh komponen masyarakat maupun dinas pemerintahan melalui PKK Kabupaten Ngada. Acara dibuka oleh Bupati Ngada Raymundus Bena melalui Plh Asisten 3, Yohanes Ghae, dengan menyampaikan sambutan bahwa kolaborasi antara institusi pemerintah dengan perguruan tinggi diharapkan mampu mengatasi permasalahan sosial yang ada di Kabupaten Ngada secara komprehensif dan empiris. Ketua tim pengabdian masyarakat, Dr Ivonne Milichristi Radjawane, menyambut baik harapan Pemda Ngada bahwa kegiatan yang dilaksanakan kali ini adalah awal dari sebuah kolaborasi. “Semoga hari ini adalah awal yang bukan akhir, tapi awal untuk membangun kerjasama positif”, imbuh Dr Ivonne.

Setelah memberi sambutan, Dr Ivonne menyinggung peran gizi hewani dan nabati yang sangat krusial dalam menanggulangi maupun mencegah stunting bagi sejak masa kehamilan, kelahiran, dan tumbuh kembang anak di masa balita.

Selanjutnya kegiatan memasuki sesi materi, yang disampaikan oleh Esa Fajar H., MSi, mengenai potensi ikan laut dan ikan air tawar budidaya yang mengandung nutrisi lengkap. Disampaikan juga materi teknik budikdamber dan efisiensinya dalam menyajikan sumber protein hewani dan nabati di ruang terbatas dengan modal ekonomis.

Memahami secara teori juga harus disertai praktek, maka acara bergerak ke materi workshop yang direpresentasikan oleh mahasiswa yaitu Nabila, Gara, Rifky dan Fajri. Kesempatan untuk mempraktekkan ilmu teori di kelas tidak dimanfaatkan dengan baik oleh tim mahasiswa. Dengan kepercayaan diri dan didampingi oleh dosen, tim mahasiswa mampu memberi pelatihan yang menarik rasa penasaran dan antusiasme peserta untuk turut andil berpraktek langsung. Bahkan Ketua TP-PKK, Blandina Mamo, turun tangan mengajak peserta lainnya memegang solder untuk memodifikasi ember sebagai media budidaya. Adapun komoditas ikan yang digunakan dalam pelatihan adalah ikan lele dan nila, sedangkan komoditas sayurannya adalah tanaman kangkung.

Di sela-sela waktu pembukaan hingga penutupan kegiatan, Dr Saat Mubarrok melakukan mini riset untuk mengetahui pemahaman masyarakat terhadap materi pelatihan yang disampaikan. Hasil riset dapat dijadikan sebagai bahan analisis untuk membuat model rancangan pelatihan pada studi kasus Kabupaten Ngada.

Akhir kegiatan, secara simbolis, tim pengabdian masyarakat ITB memberikan teknologi budikdamber sejumlah 6 unit untuk dijadikan bahan pelatihan dan praktek lanjutan bagi komunitas PKK Kabupaten Ngada. Artinya bahwa ilmu dan teknologi sudah ditransfer secara utuh dari tim pengmas kepada perwakilan masyarakat Ngada melalui PKK sebagai tanggungjawab akademik dalam menyelesaikan permasalahan aktual di tengah-tengah masyarakat.

Tanggapan Perwakilan Masyarakat

Antusiasme yang tinggi ditunjukkan oleh para peserta dalam kegiatan pelatihan metode budikdamber (budidaya ikan dalam ember) yang dilaksanakan di Kecamatan Bajawa melalui banyaknya pertanyaan yang dilayangkan kepada pemateri dari tim pengabdian masyarakat ITB. Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 60 peserta Ibu-Ibu PKK Kabupaten Ngada yang sangat bersemangat untuk mempelajari metode budidaya yang praktis dan ramah lingkungan. Tingginya animo dapat dilihat dari latar belakang anggota PKK ini yang berasal dari anggota dinas pemerintahan Kabupaten Ngada maupun masyarakat umum. Disamping itu, anggota PKK yang hadir juga mewakili dari seluruh kecamatan di Kabupaten Ngada dari ujung pesisir utara, daerah dataran tinggi, hingga yang berasal dari kecamatan ujung selatan. Perwakilan PKK inilah yang nantinya menjadi motor penggerak pelatihan budikdamber untuk masyarakat dan ibu-ibu di daerah perwakilan masing-masing sebagai perpanjangan tangan dari ilmu yang sudah di transfer oleh tim pengmas. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh semangat dan interaksi aktif, mencerminkan besarnya ketertarikan masyarakat terhadap inovasi budidaya yang sederhana, berbiaya ringan, mudah dilakukan dalam skala rumah tangga, namun berdampak nyata memenuhi gizi harian rumah tangga. Diharapkan kegiatan ini dapat terus berlanjut dan terjalin interaksi yang baik antara Kabupaten Ngada dengan ITB dalam mengentaskan masalah stunting dan masalah sosial ekonomi lainnya di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Dalam sesi tanya jawab, Ibu Lali yang berasal dari PKK Kecamatan Riung menyampaikan pendapatnya “Saya yakin ibu-ibu di daerah saya bisa buat budikdamber ini. Alat bahan toh banyak di toko-toko. Istri di rumah sudah pandai urus anak urus suami, nanti juga pintar rawat lele” yang disambut tawa riuh peserta lainnya. Tidak mau kalah berpendapat, Ibu Kristina PKK perwakilan Dinas Perikanan ikut menimpali “Nantinya bapak ibu dosen kembali lagi ke Ngada, kita kasih pesta makan lele goreng” diiringi tepuk tangan peserta yang hadir. Di akhir kegiatan, Ibu Ketua TP-PKK Ibu Blandina memberi kata-kata penutup “Saya ingin perwakilan PKK yang diundang hari ini untuk membuat program di masing-masing daerahnya melakukan pelatihan budikdamber. Supaya apa yang kita terima hari ini juga diterima oleh seluruh masyarakat di Kabupaten Ngada ini”.

Keberlanjutan Program

Permasalahan stunting di Provinsi NTT adalah masalah besar yang perlu penanganan multi-perspektif dan lintas disiplin ilmu, serta komitmen jangka panjang karena kompleksitas permasalahan. Tim pengabdian masyarakat setelah melakukan diskusi mendalam bersama pemangku kebijakan seperti Bupati, Ketua TP-PKK, dan Dinas Perikanan menemukan banyak celah kenapa stunting belum bisa diatasi penuh dan merata di seluruh daerah NTT khususnya di Kabupaten Ngada. Selain perbedaan sumber daya alam untuk sumber protein hewani dari ikan di daerah pesisir dan dataran tinggi, faktor pola makan anak juga mendapat perhatian khusus. Saat ini, anak mudah bosan dengan menu olahan makanan yang monoton seperti ikan yang digoreng, rebus, maupun bakar. Dalam sesi diskusi, secara mengejutkan, banyak peserta yang tidak tahu jenis olahan makanan seperti nugget, cara pengolahan ikan pindang, hingga proses pembuatan abon yang efisien dengan tetap menjaga nilai gizi-nya. Permasalahan turunan inilah yang sedang didalami oleh tim pengabdian masyarakat untuk dicari alternatif teknologi tepat guna yang sesuai dengan karakter masyarakat lokal dan kemudian diimplementasikan pada tahun mendatang. Selain untuk memodifikasi bahan dasar protein menjadi produk olahan bermacam rupa, teknologi tepat guna yang diharapkan masyarakat Ngada kepada tim ITB adalah juga mampu menjaga kualitas produk dalam jangka waktu yang lebih lama tanpa mengurangi nilai gizi, guna menghadapi musim paceklik yang tak tentu seiring anomali perubahan iklim.

SDGs : #SDG3

523

views

29 July 2025