Teknologi Filtrasi Pasir Lambat untuk Desa Telaga Sari

Tim Penulis:
Miga Magenika Julian, S.T., M.T. (FITB ITB), Dr. Prima Roza (FSRD ITB), Esa Fajar Hidayat, S.Kel., M.Si. (Ilmu Kelautan UB), Sunarni, SPi., MSi., Nur Fadilah Muktiningsih (Mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika ITB 2022), Sarah Kristina Pakpahan (Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB 2022)

 

Debu dari tanah berwarna merah beterbangan di siang hari yang panas itu membuat perjalanan kami terasa seperti di tempat yang nun jauh dari sumber mata air. Tidak lama kemudian terlihat papan nama Kantor Desa Telaga Sari yang membuat kami menjadi sangat lega. Perjalanan tim pengabdian masyarakat kami mempunyai jarak tempuh yang cukup jauh, yaitu 9 jam perjalanan udara ditambah 3 jam jalur darat sebelum sampai di kantor desa tujuan. Siang itu tampak banyak pekerja proyek yang sibuk bekerja untuk bangunan baru di samping kantor desa yang tampak sudah tua. “Assalamualaikum Pak/Bu Dosen, silakan masuk “, sapa Bapak Riyanto ramah menyambut kami keluar dari pintu mobil. “Ya beginilah pak desa kami, lumayan jauh dari kota”. “Sekarang ini sudah keturunan kedua dari warga transmigran yang pertama datang, termasuk orang tua saya“ lanjut pak Riyanto, seolah memvalidasi keingintahuan kami akan tukang yang sedang bekerja terlihat bukan dari penduduk asli tanah Papua. “Bisa dibilang, kami ini ya masyarakat lokal, karena tanah desa ini tidak ada yang menempati ketika orang tua kami dulu datang ke sini”. Bahkan, keturunannya ada yang tidak pernah tahu asal-usul daerah orangtua-nya. Jadi kampung halaman kami ya ini, Merauke, meskipun orang tua kami dari Jawa semua“. Meskipun tampak gersang dan kering, rasa cinta dan memiliki atas Desa Telaga Sari tidak membuat 480 KK yang tinggal bergeming untuk berpindah. Bahkan sejak periode pertama transmigrasi di Distrik Kurik, sekitar tahun 1980-an, Desa Telaga Sari mengalami kesulitan mengakses air bersih. Namun warganya setia hidup menempati dan beranak-pinak hingga sekarang. Ironisnya adalah ketika pemerintah pusat gencar memulai projek nasional food estate di tanah Papua, kebutuhan dasar manusia seperti air bersih di Telaga Sari justru tidak tersentuh. Kondisi itulah yang menggerakkan tim pengabdian masyarakat untuk menyediakan air bersih di Desa Telaga Sari sesuai amanah UU N0.17 Tahun 2019 yang menegaskan bahwa air bersih yang cukup adalah hak rakyat.

Air di Desa Telaga Sari

Jarak Desa Telaga Sari dengan garis pantai terdekat di Kampung Kumbe Distrik Malind cukup jauh, yaitu sekitar 30 km.  Namun, topografinya menunjukkan hanya ±1 meter di atas permukaan laut. Kondisi tersebut mengakibatkan air tanah cenderung payau. Pengakuan masyarakat juga mengatakan bahwa air tanah di beberapa titik mengandung belerang. Fakta fakta ini tentu  masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana. Permasalahan air bersih sudah dihadapi penduduk Desa Telaga Sari sejak puluhan tahun  yang ketika mereka mulai bermukim di desa ini. Sampai saat ini masyarakat masih mengandalkan tampungan air hujan di embung untuk kebutuhan harian seperti mandi, cuci, dan kakus (MCK), meskipun dengan kondisi yang tidak bersih dan steril. Tingginya biaya untuk pengecoran embung memaksa beberapa rumah tangga membuat sebuah embung yang dikeruk tanpa pelapis maupun penutup. Akibatnya dapat ditebak, air hujan yang ditampung akan berinteraksi langsung dengan tanah dan berpotensi tercampur (dissolved) dan menjadi kotor, apalagi disimpan dalam kurun waktu yang lama.

Ironisnya, tidak lebih dari 10 km ke arah barat, tepatnya di Desa Salor Indah, air tanah yang bersih sangat mudah didapat walaupun kapasitasnya hanya cukup untuk keperluan MCK harian warga disana. Oleh karena itu warga Desa Telaga Sari harus menerima keadaan geografis bahwa mereka terpaksa tetap menggunakan air yang tidak steril untuk keperluan MCK, dan harus menjemput air bersih di Salor Indah untuk memasak dan air minum. Karena air bersih adalah hak seluruh rakyat Indonesia, dan dengan adanya kondisi yang dialami oleh masyarakat Desa Telaga Sari, maka intervensi ilmu pengetahuan dan teknologi wajib memberikan peran dan tanggungjawabnya.

ITB-UB-UnMus dan Teknologi Filtrasi Air Bersih

Rumitnya permasalahan tidak bisa hanya didekati dengan sudut pandang yang tunggal. Ilmu multidisiplin dari lintas bidang studi perlu disatukan dalam kolaborasi partisipatif untuk menyelesaikan permasalahan yang sudah menahun dan mengakar di Desa Telaga Sari. Permasalahan ini dapat menjadi tragedi apabila kondisi yang sama dibiarkan berlanjut. “Kami lahir dan besar dengan air yang kotor seperti ini, jadi sudah biasa. Tidak sakit kulit atau semacamnya. Tapi, kalau bisa dibuat bersih tentu kami sangat bersyukur“, harap Riyanto kepada tim PengMas. Menormalisasi keadaan yang tidak ideal ditengah ditengah kemajuan teknologi bangsa adalah sesuatu yang tidak dapat dibenarkan. Oleh karena itu, tim dosen lintas disiplin ilmu dari ITB/Teknik Geodesi & Geomatika (Miga Magenika, MT), ITB/KK Ilmu Kemanusiaan (Dr Prima Roza), UB/Ilmu Kelautan (Esa Fajar Hidayat, MSi), dan UnMus/Manajemen Sumber Daya Perairan (Sunarni, MSi) memberikan komitmen bersama untuk memberikan alternatif pengelolaan air bersih yang berkelanjutan.

Setelah melalui analisis kasus dan melakukan studi literasi, tim bersepakat untuk melakukan instalasi purwarupa alat filtrasi dengan metode pasir cepat dan pasir lambat. Selain menyampaikan kadar curah hujan secara spasial di Desa Telaga Sari sebagai bentuk dasar mitigasi, tim juga mentransfer teknologi filtrasi air yang didemonstrasikan langsung kepada perangkat desa dan masyarakat. Harapannya adalah masyarakat dan setiap rumah tangga dapat mereplikasi teknologi. Selain berbiaya rendah, alat dan bahan dari teknologi filtrasi juga mudah didapat di pasar antara lain karbon aktif, pasir silika , kerang sungai, zeolit, dan kapas. Kapas dapat diganti dengan ijuk aren atau dengan sabut kelapa.

Teknologi yang dikembangkan ini bersifat inovasi yang mengandalkan kearifan lokal, yaitu kulit kerang sungai. Tujuan penambahan kulit kerang ini adalah untuk mendapatkan lapisan schmutzdecke sebagai media tumbuh hidupnya bakteri heterotrofik. Lapisan schmutzdecke terbentuk di permukaan pasir setelah beberapa hari operasi filtrasi. Lapisan ini terdiri dari campuran bahan organik (sisa-sisa mikroba, plankton, partikel organik halus), anorganik, dan komunitas mikroorganisme seperti bakteri, protozoa, alga, dan fungi. Susunan bahan yang dimasukkan dalam sistem filtrasi seperti dijelaskan pada gambar 1 berikut ini. Fungsi dari masing-masing bahan adalah: pertama kapas atau sabut kelapa berfungsi menurunkan kadar kekeruhan, warna, dan total dissolved solid (TDS). Kedua, zeolit berfungsi menyaring kotoran berukuran besar seperti daun dan rumput. Ketiga, pasir silika dan kerang berfungsi untuk menyaring lumpur, endapan, pasir serta sebagai media tumbuhnya bakteri heterotrofik. Keempat, karbon aktif untuk meningkatkan kemampuan penyisihan zat-zat kimia dan organik yang tidak dapat dihilangkan hanya dengan proses penyaringan mekanis. Ketebalan masing-masing bahan juga diperhitungkan untuk mencapai hasil yang optimal. Dengan ketinggian gentong yakni 100 cm dengan volume 90 liter, ketebalan kapas, karbon aktif, pasir silika, zeolit,dan cangkang kerang secara berturut-turut adalah 5 cm, 10 cm, 40 cm, 7cm, dan 12 cm.

Saringan pasir lambat berbasis gentong 90 liter terdiri dari lapisan kerang sebagai penopang, zeolit untuk menyerap ion seperti amonia, pasir silika sebagai media utama pembentuk schmutzdecke, karbon aktif untuk menghilangkan bau dan senyawa organik, serta kapas sebagai penyaring awal. Air dialirkan perlahan dari atas dengan laju filtrasi rendah, sekitar 18–36 liter per jam. Pada tahap awal, filter melewati masa ripening selama dua hingga empat minggu hingga terbentuk lapisan biologis di permukaan pasir. Lapisan schmutzdecke ini berisi mikroorganisme yang memakan bahan organik dan menonaktifkan patogen, menjadikan sistem bekerja tidak hanya secara fisik dan kimiawi, tetapi juga biologis.

Setelah filter mencapai kondisi stabil, air keluar dengan kekeruhan rendah (umumnya di bawah 1–2 NTU) dan kandungan bakteri berkurang hingga 99%. Bila laju alir mulai menurun, lapisan pasir atas dibersihkan melalui proses scraping untuk menghilangkan endapan tanpa mengganggu lapisan di bawahnya. Filter kemudian dijalankan kembali hingga terbentuk schmutzdecke baru. Dengan pengoperasian yang konsisten dan pemeliharaan rutin, saringan ini dapat menghasilkan air jernih, tidak berbau, dan aman untuk keperluan domestik, menjadikannya solusi sederhana namun efektif dalam pengolahan air bersih skala rumah tangga.

Hubungan Timbal Balik Akademisi – Masyarakat

Dalam kegiatan ini, masyarakat bukanlah objek pengabdian masyarakat, namun sebagai subjek yang berperan mengembangkan inovasi teknologi filtrasi air. Masyarakat pula yang aktif berdiskusi dan memberikan banyak data sebelum tim merumuskan jenis teknologi yang diterapkan. Bahkan, teknologi pada awalnya mengalami malfungsi saat menerapkan metode pasir cepat. Air yang sudah difiltrasi tidak mengalami perubahan dari segi kejernihan dan tim harus membawa pekerjaan ini lebih lanjut ke meja laboratorium. Peran dan inisiatif masyarakat yang terus menjalin komunikasi partisipatif dengan tim menjadikan metode pasir lambat yang ternyata dapat bekerja sesuai dengan harapan. Perlu waktu setidaknya 2 minggu untuk bakteri yang tinggal di kulit kerang dapat hidup dan aktif, padahal tim sudah harus kembali ke Bandung dan tidak dapat memastikan dan menyaksikan hasil kegiatan pengmas secara langsung. Andil masyarakat Telaga Sari yang secara presisi menerjemahkan maksud dari tim peneliti,  menjadikan teknologi ini dapat bekerja optimal yaitu menyaring air kotor akibat partikel tanah ter-dissolved menjadi air bersih layak guna.

Komunikasi terus berlanjut jarak jauh dan kolaboratif guna memproduksi air bersih layak pakai dalam jumlah besar dan banyak, terlebih untuk masing-masing rumah tangga dan kepentingan umum. “Untuk keperluan umum, nanti balat ini bisa diperbesar volume nya pakai dana desa anggaran tahun depan, dan masing-masing rumah tangga semoga bisa buat juga“ ujar Riyanto melalui komunikasi zoom. Meskipun sudah mendapatkan hasil yang diharapkan, sampel air tetap akan dimasukkan ke  laboratorium Teknik Lingkungan ITB untuk menguji parameter fisik dan kimia untuk mengetahui kandungan air yang disimpan di embung.

Desanesha, Kampus Berdampak, dan SDGs

Pengabdian masyarakat dengan tema filtrasi air bersih ini merupakan wujud nyata dari peran akademisi yang mendapat dukungan dari program Desanesha inisiasi antara ITB dan Kementerian Desa. Melalui platform di appstore/playstore Riyanto menyampaikan kegelisahannya sebagai pemimpin di Desa Telaga Sari dan bertanggungjawab atas kesejahteraan warganya akan air bersih. Bak gayung bersambut yang diiringi harapan seluruh warga desa yang sudah puluhan tahun hidup bersama air tidak layak pakai, doa itu kemudian berubah bentuk menjadi teknologi tepat guna dan akan membawa budaya baru dalam konteks sosial.

Dosen yang hadir hanyalah partikel kecil dalam kebahagiaan yang terbayang dari senyum masyarakat setelah bertahun-tahun hidup menormalisasi air tidak layak untuk kebutuhan hidup. Hal paling utama adalah dimana iptek itu sendiri membawa dampak perubahan, tidak hanya untuk komunitas masyarakat tapi juga mahasiswa yang hadir terlibat. Sarah Kristina Pakpahan (Teknik Lingkungan 2022 ITB) dan Nur Fadilah Muktiningsih (Teknik Geodesi & Geomatika 2022 ITB) turut masuk ke dalam sebuah skenario penting dalam pengejawantahan ilmu teori yang sudah didapat dari bangku kuliah ke dalam ruang nyata di tengah-tengah tuntutan publik.

Capaian yang didapat sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yaitu SDG6: Sanitasi dan Air Bersih. Air adalah kebutuhan hidup utama semua makhluk yang bernafas, sudah sepatutnya setiap warga negara mendapat keadilan yang setara terhadap akses air bersih dimanapun letak dan kondisi geografisnya. Tidak banyak yang cukup beruntung tinggal dengan kemapanan air bersih, tapi kemandiriannya menjadi tanggungjawab bersama, tidak terbatas untuk akademisi, pemerintah, maupun pihak industri.

Keberlanjutan Program

Sejatinya, dalam tahun-tahun terdahulu, pemerintah sudah memberikan bantuan filtrasi dalam skala besar kepada warga Desa Telaga Sari. Alat filtrasi yang diinstal pada tepi sungai kemudian dialirkan ke desa hanya bertahan jangka pendek. Kelemahannya adalah tidak adanya transfer ilmu tentang tata cara perawatan alat, dan biaya filter air yang cukup tinggi, di luar kemampuan masyarakat untuk membiayainya bahkan dengan iuran bersama sekalipun. Inovasi teknologi yang sudah dikembangkan ini bersifat sederhana, murah, dan mudah direplikasi, dengan harapan setiap warga dapat memproduksi sendiri air bersih layak pakainya.

“Ijin, mohon maaf tanpa mengurangi rasa terima kasih. Kami sangat-sangat bersyukur Bapak/Ibu dosen sudah mau datang dari jauh, ajari kita bagaimana buat dan merawat alat ini. Kalau boleh kami berharap lagi, minta tolong mungkin ada alat yang bisa dipakai supaya air suling ini bisa langsung minum. Kami harus pergi ke kampung sebelah baru ada kios galon isi ulang“ harap Riyanto saat itu sebelum tim pamit untuk pulang. Harapan yang sangat masuk akal karena ketua tim, Miga Magenika Julian, M.T., merupakan bagian tim dari projek instalasi stasiun air minum publik di Krui Lampung pada Juli 2025 lalu. Semoga pengabdian masyarakat ini dapat memberi manfaat dan rasa keadilan bagi saudara kita di ujung timur perbatasan.

SDGs : #SDG6

219

views

09 February 2026