Teknologi Pesawat Nirawak dan Fotogrametri untuk Akurasi Pemetaan Kawasan Kumuh

Penulis:
Adenantera Dwicaksono, S.T., M.Ds., Ph.D.
Kelompok Keahlian Pengelolaan Pembangunan dan Pengembangan Kebijakan
Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan
Institut Teknologi Bandung (ITB)

Pemukiman kumuh menjadi tantangan pengelolaan perkotaan berupaya diatasi dengan program Konsolidasi Tanah Vertikal, yang menekankan pembangunan berbasis komunitas tanpa penggusuran. Namun implementasinya terkendala oleh kurangnya data spasial yang akurat dan komprehensif. Tim Ilmuwan ITB melakukan pendekatan pemetaan partisipatif dengan teknologi pesawat nirawak dan teknik fotogrametri untuk menjawab kelemahan pemetaan partisifipatif konvensional.

Tingginya kepadatan penduduk dan keterbatasan hunian yang terjangku terutama di perkotaan, memunculkan permukiman kumuh yang menjadi tantangan besar karena memicu penurunan kualitas lingkungan, risiko sosial, dan ancaman bencana. Permukiman kumuh seringkali tidak memiliki sarana dan prasarana dasar yang memadai, seperti akses terbatas atau tidak ada ke air bersih, toilet, listrik, dan pengelolaan limbah. 

Bangunan di permukiman kumuh umumnya tidak teratur, kualitasnya rendah, dan seringkali tidak dilengkapi dengan fasilitas yang layak huni seperti jendela dan ventilasi. Sementara pola sebarannya cenderung acak dan mendekati pusat kegiatan seperti perkantoran, industri, dan perdagangan. Keterbatasan lahan yang ada menjadi faktor penyebab munculnya permukiman kumuh.

Salah satu upaya pemerintah dalam mengurangi kawasan pemukiman kumuh adalah dengan melakukan penataan dan peningkatan kawasan permukiman. Di tengah tantangan kurangnya lahan, solusi Konsolidasi Tanah Vertikal (KTV) menjadi salah satu pilihan dalam penataan kawasan kumuh tersebut.

KTV adalah penataan kembali tanah yang terpisah secara kepemilikan dan penggunaan untuk dikembangkan menjadi bangunan vertikal, seperti rumah susun, dengan tujuan meningkatkan kualitas lingkungan dan pemanfaatan ruang yang lebih efisien, terutama di daerah perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan. 

Dengan membangun hunian vertikal yang lebih layak dan tertata, pemanfaatan ruang diharapkan menjadi lebih efisien melalui penyediaan hunian yang layak dan terjangkau bagi masyarakat, meningkatkan kualitas hidup. Namun, penerapan KTV memiliki kendala dini yaitu kurangnya data spasial yang akurat.

Upaya pertama dalam mendapatkan data spasial umumnya dilakukan melalui pemetaan, dan dalam hal pemetaan wilayah pendekatan yang dilakukan adalah dengan pemetaan partisipatif. Pemetaan partisipatif adalah metode pemetaan yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam proses pengumpulan data dan pembuatan peta wilayah mereka. 

Masyarakat menjadi pelaku utama dalam pemetaan, menggunakan pengetahuan lokal mereka untuk menggambarkan kondisi fisik, sosial, ekonomi, dan budaya wilayah. Hasil pemetaan ini kemudian dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti perencanaan pembangunan, pengelolaan sumber daya alam, dan pelestarian budaya

Pemetaan partisipatif adalah metode pemetaan yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam proses pengumpulan data dan pembuatan peta wilayah mereka. Masyarakat memiliki pengetahuan mendalam tentang wilayah mereka, termasuk batas-batas wilayah adat, cara mereka memanfaatkan sumber daya alam, dan nilai-nilai budaya yang terkait.

Pemetaan partisipatif menempatkan masyarakat sebagai subjek utama, bukan hanya objek pemetaan. Masyarakat menjadi pelaku utama dalam pemetaan, menggunakan pengetahuan lokal mereka untuk menggambarkan kondisi fisik, sosial, ekonomi, dan budaya wilayah. Masyarakat terlibat dalam setiap tahapan, mulai dari pengumpulan data hingga pembuatan peta. 

Peta yang dihasilkan bukan hanya representasi visual, tetapi juga alat untuk perencanaan, pengambilan keputusan, dan advokasi bagi masyarakat. Pemetaan partisipatif dapat menjadi dasar bagi pembangunan yang berkelanjutan dan berpihak pada kepentingan masyarakat setempat. 

Dalam konteks pemetaan pemukiman kumuh, pemetaan partisipatif tradisional seringkali hanya menghasilkan data kualitatif yang kurang rinci. Pemetaan tradisional biasanya kurang mampu mendapatkan tingkat akurasi akurasi tinggi yang dapat digunakan untuk perencanaan Konsolidasi Tanah Vertikal, terutama data spasial yang lengkap peta tanah dan bangunan, seperti citra orthomosaic, topografi, dan model elevasi digital.

Partisipatif berbasis teknologi

Teknologi pesawat nirawak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) atau drone dengan teknik fotogrametri menjadi alternatif untuk meningkatkan akurasi dan efektivitas pemetaan. Tantangan yang perlu dijawab kemudian adalah bagaimana memadukan penggunaan teknologi ini dengan pendekatan partisipatif.

Dalam payung program pengabdian kepada masyarakat, tim ilmuwan ITB dari Sekolah Arsitekur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) melakukan pemetaaan partisipatif berbasis teknologi pesawat nirawak dan fotogrametri. Tim dipimpin oleh Prof. Ir. Haryo Winarso, Ph.D., dari Kelompok Keahlian Perencanaan dan Perancangan Kota, dan antara lain beranggotakan Adenantera Dwicaksono, Ph.D., serta Dr. Akhmad Gunawan.

Kegiatan ini dilaksanakan di salah satu kawasan pemukiman padat di Kota Bandung, yaitu di RW 05 Kelurahan Cibangkong.  Melalui serangkaian pelatihan, pendampingan teknis, dan lokakarya partisipatif, program ini diharapkan mampu mendorong kolaborasi berkelanjutan antara masyarakat, pemerintah, dan swasta dalam mendukung pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Program ini menggunakan pendekatan berbasis partisipasi komunitas dengan memanfaatkan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau pesawat nirawal untuk pemetaan partisipatif. Sebelum dilakukan kegiatan lebih lanjut dilakukan pendekatan dengan mengutamakan partisipasi aktif komunitas sebagai pelaku utama dalam kegiatan. Komunitas dilibatkan pada setiap tahap, mulai dari pengumpulan data sampai dengan analisis data. 

Dalam pelaksanaannya dibentuk tim internal dan berkolaborasi dengan mitra komunitas serta membangun kesepakatan dengan pemerintah kelurahan dan RW setempat. Melalui kegiatan ini, terdapat 10 aktivis dari komunitas yang dilatih dalam penggunaan UAV/Drone dan teknik fotogrametri untuk pemetaan bidang tanah dan bangunan. Komunitas dilatih untuk memahami langkah-langkah dalam proses pemetaan, termasuk pengoperasian pesawat nirawak, pengolahan citra, dan penyusunan peta.

Dalam proses pemetaan foto udara, penentuan titik kontrol dilakukan dengan merujuk peta rupa bumi Indonesia, yang disempurnakan dengan GCP, atau Ground Control Point.  Dalam konteks pemetaan, adalah titik di permukaan bumi yang memiliki posisi yang diketahui dengan akurat. Titik-titik ini digunakan untuk mengoreksi dan meningkatkan akurasi data pemetaan yang dihasilkan dari foto udara, drone, atau sumber lainnya. 

Setelah proses itu, bersama masyarakat setempat dirancang proses perencanaan penerbangan. Proses ini mencakup observasi lapangan, perencanaan overlap dan sidelap, perencanaan jalur terbang, dan kalibrasi kamera. Tahap pemotretan udara kemudian dilakukan dengan menggunakan pesawat nirawak, dan bersama masyarakat pula dilakukan analisis dan validasi atribut kepemilikan bangunan.

Tingkat akurasi tinggi

Penggunaan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau drone dengan teknik fotogrametri terbukti efektif dalam meningkatkan akurasi pemetaan partisipatif di kawasan kumuh. Pendekatan ini tidak hanya mengatasi keterbatasan metode tradisional, tetapi juga memberdayakan komunitas melalui pelatihan dan pendampingan penggunaan teknologi yang lebih maju.

Partisipasi aktif masyarakat Kelurahan Cibangkong menjadi kunci keberhasilan program, meningkatkan rasa kepemilikan dan kapasitas dalam pengelolaan kawasan permukiman. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan mitra perguruan tinggi memastikan proses berjalan sinergis dan berkelanjutan.

Dalam program ini, dihasilkan peta bidang tanah dan bangunan dengan tingkat akurasi tinggi yang dapat digunakan untuk perencanaan Konsolidasi Tanah Vertikal. Peta ini mencakup data spasial yang lengkap, seperti citra orthomosaic, topografi, dan model elevasi digital (Digital Elevation Model/DEM).

 Program ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi UAV atau drone dengan teknik fotogrametri dapat meningkatkan akurasi pemetaan partisipatif di kawasan kumuh. Melalui pelatihan dan lokakarya, komunitas Cibangkong berhasil menghasilkan peta tanah dan bangunan yang akurat, mendukung perencanaan Konsolidasi Tanah Vertikal.

Selain itu, program ini juga berkontribusi pada peningkatan kapasitas masyarakat, memperkuat rasa kepemilikan, dan mendorong kolaborasi multi-pihak. Pendekatan ini relevan untuk diterapkan di kawasan lain dalam rangka mendukung pembangunan kota yang inklusif dan berkelanjutan.*

Dari Penerbangan hingga Validasi

Mengenal bagaimana mengoperasikan pesawat nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle/UAV bagi masyarakat menjadi hal yang menyenangkan. Akan tetapi, lebih dari itu, pelibatan masyarakat dalam pemetaan partisipatif menggunakan teknologi pesawat nirawak hingga lengkap melihat dan menganalisis hasilnya, selain merupakan pengalaman baru, sekaligus menjadi jawaban dari tingkat lebih tinggi dari pemetaan partisipatif tradisional.

Kolaborasi antara tim ITB dengan masyarakat benar-benar dilakukan di setiap tahapan pelaksanaan, mulai dari pengenalan program hingga mendapatkan peta nanalog dan peta interaktif berbasis situs web. Pada saat persiapan, tim ITB melakukan penyiapan materi sementara komunitas mempersiapkan peserta secara simultan.

Begitu pula pada pelatihan penggunaan pesawat nirawak, masyarakat dengan aktif menyiapkan tempat dan peserta untuk mendapatkan materi dari tutor yang berasal dari tim ITB. Ketika masuk pada pelaksaan pemotretan menggunakan pesawat nirawak, peran masyarakat menjadi semakin besar dengan melakukan penerbangan yang didampingi oleh tim ITB. Pada tahap pelatihan pengolahan data yang dilakukan di Labscan, masyarakat kembali mendapatkan pengetahuan baru dari tim ITB yang berperan sebagai tutor.

Bagian terpenting dari proses pemetaan partisipatif ini, kemudian adalah memaknai peta dan melakukan validasi. Dalam proses ini, masyarakat dan tim ITB berbagi peran. Tim ITB berperan memasukkan data berbasis GIS dan situs web, sementara komunitas menjadi validatornya.

Program ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi UAV atau drone dengan teknik fotogrametri dapat meningkatkan akurasi pemetaan partisipatif di kawasan kumuh. Bersama dengan tim ITB, komunitas mampu menghasilkan peta tanah dan bangunan yang akurat dalam mendukung perencanaan Konsolidasi Tanah Vertikal.

SDGs : #SDG11

664

views

12 August 2025