Ketua Tim:
Muhammad Shiddiq Sayyid Hashuro, S.T., M. Eng., Ph.D.
(Teknik Biomedis, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI))
Penulis:
Widya Anugrah Kinasih, S.T.
(Teknik Biomedis, STEI)
Sebagai bagian dari program transformasi layanan kesehatan yang dijalankan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, berbagai upaya peningkatan layanan stroke terus dilakukan secara menyeluruh di berbagai lini. Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah telah berperan aktif dalam memperkuat sarana dan prasarana kesehatan, termasuk penyediaan alat-alat berteknologi tinggi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pelatihan bagi tenaga medis di berbagai daerah. Salah satu fokus utama dari upaya ini adalah memastikan penanganan stroke akut dapat dilakukan dengan cepat, tepat, dan merata, tidak hanya di kota besar tetapi juga di seluruh wilayah Indonesia tanpa terkecuali. Pemerintah menyadari bahwa kesetaraan akses terhadap layanan kesehatan menjadi kunci penting untuk menekan angka kematian dan kecacatan akibat stroke.
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas di Indonesia. Menurut berbagai laporan kesehatan nasional, ribuan pasien setiap tahunnya kehilangan kesempatan untuk pulih karena penanganan awal yang terlambat. Dalam kasus stroke, waktu merupakan faktor yang sangat krusial dimana setiap menit yang terlewat berarti risiko kerusakan jaringan otak yang semakin besar. Kondisi inilah yang melahirkan istilah time is brain di kalangan medis. Semakin cepat intervensi dilakukan, semakin besar peluang pasien untuk bertahan hidup dan pulih tanpa cacat permanen. Oleh karena itu, kemampuan tenaga medis di rumah sakit daerah untuk segera melakukan tindakan intervensi menjadi hal yang sangat penting dan mendesak untuk diperkuat.
Pemerintah melalui berbagai program nasional terus mendorong penguatan sumber daya manusia di bidang kesehatan. Salah satunya adalah melalui pelatihan bagi dokter spesialis saraf dan bedah saraf agar mampu melakukan berbagai prosedur intervensi, seperti trombektomi, coiling aneurisma, dan tindakan endovaskular lainnya. Pelatihan-pelatihan tersebut dilakukan dalam bentuk workshop, kursus intensif, hingga pendampingan langsung di rumah sakit rujukan. Dengan cara ini, para dokter di daerah dapat memperoleh keterampilan dan pengalaman praktis dari dokter ahli di pusat-pusat pendidikan besar. Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan kesiapan mental dokter untuk menangani kasus kritis secara mandiri.
Namun demikian, setelah program pelatihan selesai dilaksanakan, muncul tantangan baru di lapangan. Banyak dokter yang telah mengikuti pelatihan merasa masih membutuhkan bimbingan lanjutan sebelum benar-benar siap melakukan tindakan secara independen. Prosedur intervensi seperti coiling aneurisma atau trombektomi memerlukan ketelitian sangat tinggi, koordinasi antar-tim yang baik, serta kemampuan mengambil keputusan cepat dalam situasi kritis. Kesalahan sekecil apa pun dapat berdampak besar terhadap keselamatan pasien. Di sinilah keberadaan seorang proctor atau dokter senior atau ahli yang memberikan bimbingan langsung menjadi sangat penting. Sayangnya, di banyak daerah, akses terhadap proctor berpengalaman masih sangat terbatas karena faktor jarak, ketersediaan tenaga ahli, dan keterbatasan infrastruktur.
Selama ini, pendampingan terhadap dokter di daerah dilakukan dengan mengirimkan dokter ahli dari rumah sakit besar di Pulau Jawa ke rumah sakit rujukan di luar Jawa. Cara ini terbukti cukup efektif untuk tindakan yang bersifat terencana, seperti pemasangan stent atau coiling aneurisma otak. Namun, pendekatan tersebut menjadi sulit diterapkan untuk kasus darurat yang memerlukan penanganan segera, seperti stroke akut. Waktu tempuh perjalanan, koordinasi jadwal, serta kendala geografis menjadi hambatan nyata yang membuat supervisi langsung tidak selalu memungkinkan dilakukan. Dalam situasi seperti ini, pasien di daerah sering kali kehilangan kesempatan untuk mendapatkan intervensi cepat yang dapat menyelamatkan nyawa mereka.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian masyarakat dari Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, RSUD Undata Palu, dan RS Pusat Otak Nasional (PON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta mengembangkan alat video tele-proctoring. Inovasi ini memungkinkan dokter ahli (proctor) memberikan supervisi jarak jauh secara real-time kepada dokter pelaksana (proctee) di daerah, terutama saat melakukan tindakan intervensi di ruang cath lab. Sistem ini diharapkan dapat menjadi solusi yang efisien, aman, dan praktis dalam membantu dokter di daerah agar tetap mendapatkan bimbingan langsung dari tenaga ahli tanpa harus menunggu supervisi tatap muka. Kehadiran sistem ini tidak hanya mempersingkat jarak antara proctor dan proctee secara geografis, tetapi juga memperkuat jejaring kolaborasi antar-rumah sakit di Indonesia.
Sebelum alat diimplementasikan, tim melakukan survei langsung ke lokasi pemasangan, yaitu ruang cath lab RSUD Undata Palu. Survei tersebut penting untuk memastikan alat yang dikembangkan dapat terintegrasi dengan baik ke sistem dan peralatan medis yang sudah ada di rumah sakit. Selain itu, tim juga melakukan wawancara mendalam dengan para pengguna utama alat ini. Pihak proctor diwakili oleh dr. Muhammad Kusdiansah, Sp.BS dari RS PON Jakarta, sementara pihak proctee adalah dr. Franklin Lessyamana Sinanu, Sp.BS dari RSUD Undata Palu. Wawancara ini memberikan banyak masukan berharga mengenai kebutuhan nyata di lapangan, termasuk harapan pengguna terhadap fungsi, kemudahan, dan keamanan alat.
Dari hasil wawancara, diketahui bahwa sistem teleproctoring yang selama ini digunakan masih sangat terbatas. Biasanya, komunikasi dilakukan menggunakan aplikasi konferensi umum seperti Zoom atau Google Meet. Aplikasi tersebut memang memudahkan komunikasi jarak jauh, tetapi tidak dirancang khusus untuk kebutuhan medis. Fitur-fitur penting seperti pengaturan arah pandang kamera, kemampuan melakukan anotasi langsung di layar, atau pengendalian tampilan citra medis tidak tersedia, sehingga bimbingan visual menjadi kurang optimal. Kondisi ini sering kali membuat komunikasi antara proctor dan proctee kurang efisien, terutama ketika dibutuhkan arahan spesifik di tengah prosedur kompleks. Akibatnya, proctor tidak selalu dapat memberikan panduan tepat waktu, dan proctee kesulitan menangkap detail arahan yang disampaikan secara verbal saja.
Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD Undata, dr. Natsir, menyampaikan bahwa salah satu hambatan terbesar yang dialami para dokter muda bukanlah kurangnya kemampuan teknis, melainkan kurangnya kepercayaan diri saat harus melakukan tindakan secara mandiri.
“Mereka ini (dokter-dokter spesialis) sudah banyak belajar dan jago, cuma kurang percaya diri saja untuk melakukan operasi sendiri,” ungkap beliau sewaktu ditemu saat survey pada 18 Oktober 2025.
Hal senada juga disampaikan oleh dr. Kusdiansah, yang menjelaskan bahwa umumnya seorang dokter membutuhkan sekitar empat kali sesi proctoring sebelum merasa benar-benar siap melakukan prosedur sendiri. Dengan adanya sistem tele-proctoring ini, proses supervisi dapat dilakukan lebih sering tanpa terkendala jarak, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih konsisten, berkelanjutan, dan berkesinambungan dari waktu ke waktu.
Alat video tele-proctoring dikembangkan dengan memperhatikan kemudahan penggunaan serta kemampuan integrasi dengan sistem rumah sakit yang sudah ada. Komponen utamanya terdiri dari unit komputer pengendali, backbone komunikasi, aplikasi web interaktif, serta perangkat motor penggerak kamera yang dapat dikontrol jarak jauh oleh proctor. Desainnya dibuat plug and play, sehingga pengguna tidak perlu melakukan pengaturan yang rumit. Alat ini juga dibuat portabel agar mudah dipindahkan ke berbagai ruangan sesuai kebutuhan tanpa mengganggu kegiatan medis yang sedang berlangsung. Prinsip utama pengembangannya adalah kemudahan, keandalan, dan keamanan data pasien.
Fitur utama alat ini meliputi komunikasi dua arah secara real-time, kontrol kamera jarak jauh, serta fitur anotasi langsung di layar video. Melalui fitur kontrol kamera, proctor dapat menyesuaikan sudut pandang, memperbesar tampilan area kerja, dan mengarahkan fokus ke bagian tertentu dari prosedur. Fitur anotasi memungkinkan proctor memberikan tanda visual atau catatan langsung di layar, sehingga instruksi yang disampaikan menjadi lebih jelas dan mudah dipahami. Dengan kombinasi fitur-fitur ini, interaksi antara proctor dan proctee menjadi lebih efektif, hampir menyerupai supervisi langsung di ruangan yang sama.
Uji coba implementasi alat dilakukan pada tanggal 1–3 November 2025 di RSUD Undata Palu oleh tim dari ITB yang dipimpin oleh Muhammad Shiddiq Sayyid Hashuro, S.T., M.Eng., Ph.D. Bersama tiga anggota tim lainnya, mereka memasang dua set perangkat video tele-proctoring, dengan unit utama dipasang di ruang cath lab RSUD Undata Palu. Uji coba ini dihubungkan langsung dengan RS PON Jakarta untuk mensimulasikan sesi teleproctoring sebagaimana kondisi sebenarnya di lapangan.
Selama uji coba, sistem menunjukkan performa yang stabil dan mudah dioperasikan. Komunikasi berlangsung lancar, gambar video terlihat jelas, dan kendali kamera dapat diatur dengan respons yang baik. Proctor dapat memberikan instruksi langsung kepada proctee yang berada di Palu, sementara proctee dapat menyesuaikan tindakan berdasarkan arahan yang diberikan. Kendala utama yang ditemui hanyalah faktor eksternal berupa kualitas koneksi internet yang sesekali mengalami delay. Namun, secara keseluruhan, alat ini berhasil memenuhi ekspektasi pengguna dan menunjukkan potensi besar untuk digunakan dalam situasi medis nyata.
Keberhasilan implementasi ini membuka peluang luas bagi pemanfaatan teknologi tele-proctoring di berbagai bidang medis lainnya. Sistem yang dikembangkan tidak hanya berguna untuk penanganan kasus stroke atau tindakan endovaskular, tetapi juga dapat digunakan dalam operasi bedah umum, ortopedi, maupun pelatihan bagi residen di rumah sakit pendidikan. Menurut dr. Franklin, sistem ini sangat potensial untuk mendukung peningkatan kompetensi tenaga medis di daerah.
“Akan sangat membantu kalau alat ini juga bisa digunakan di ruangan lain, agar spesialis dari berbagai bidang juga bisa mendapatkan manfaat yang serupa,” ungkapnya.
Selain manfaat medis, alat ini juga memberikan dampak positif dari sisi ekonomi dan sosial. Dengan memanfaatkan produk buatan dalam negeri, rumah sakit tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membeli perangkat telemedicine impor yang harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Versi lokal ini dikembangkan dengan biaya jauh lebih terjangkau tanpa mengurangi fungsi dan kualitasnya. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah dalam mewujudkan kemandirian alat kesehatan nasional, sekaligus mendorong peningkatan kemampuan riset dan inovasi di dalam negeri. Kemandirian ini juga akan memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional dalam menghadapi tantangan masa depan.
Meski demikian, tim pengembang menyadari masih ada beberapa hal yang perlu disempurnakan, seperti peningkatan kestabilan koneksi, pengembangan sistem multiproctor, serta optimalisasi waktu booting agar alat dapat digunakan lebih cepat. Setiap masukan dari pengguna akan menjadi dasar bagi penyempurnaan versi selanjutnya, sehingga diharapkan ke depan alat ini semakin tangguh, efisien, dan sesuai kebutuhan lapangan.
Program ini menjadi contoh nyata dari kolaborasi lintas disiplin antara akademisi, praktisi medis, dan institusi pelayanan kesehatan daerah. Pengembangan video tele-proctoring bukan hanya sekadar proyek teknologi, tetapi juga merupakan bentuk nyata kontribusi dunia pendidikan dalam memperkuat layanan kesehatan di Indonesia. Ke depan, sistem ini diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam jaringan rumah sakit nasional sehingga supervisi, pelatihan, dan transfer keahlian antar-dokter dapat dilakukan dengan lebih mudah, cepat, dan efisien.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, video tele-proctoring bukan hanya alat bantu teknis semata, melainkan simbol kemajuan layanan kesehatan Indonesia menuju sistem kesehatan yang lebih tangguh, inklusif, dan merata bagi seluruh masyarakat.