Penulis:
Faizal Immaddudin Wira Rohmat, S.T., M.T., Ph.D.
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB
KK Teknik Sumber Daya Air
Menanam Kesadaran dari Hulu: Regenerasi Relawan Majalaya di Kampus ITB
Setiap kali musim hujan tiba, Majalaya selalu menyiapkan diri untuk kenyataan yang sama: banjir. Kawasan yang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan permukiman padat, telah akrab dengan genangan sejak beberapa dekade terakhir. Namun dibalik keakraban itu, tersimpan kelelahan: para relawan kebencanaan yang selama ini menjadi garda terdepan pemantauan dan penanganan banjir mulai menua, sementara regenerasi belum sepenuhnya terbentuk.
Tantangan inilah yang kemudian dijawab melalui kegiatan Ulin Bari Diajar Ngaguar Banjir Majalaya 2025, sebuah program eduwisata kebencanaan yang diinisiasi oleh tim dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), berkolaborasi dengan komunitas relawan kebencanaan di Majalaya. Tahun ini, kegiatan tersebut tidak lagi dilakukan di lapangan seperti tahun sebelumnya, melainkan berpindah ke Kampus ITB Jatinangor, menghadirkan pengalaman belajar langsung dari sumber ilmu pengetahuan itu sendiri.
Sebanyak 20 pelajar SMA/SMK/MA dari wilayah terdampak banjir di Majalaya diundang untuk mengikuti kegiatan ini. Mereka bukan relawan kebencanaan, setidaknya belum. Namun semangat dan rasa ingin tahu mereka menjadi bibit penting untuk melanjutkan estafet kesiapsiagaan di daerah yang setiap tahun bergulat dengan banjir. Lewat kegiatan yang dikemas dengan cara menyenangkan, mereka diajak memahami banjir bukan sebagai takdir, melainkan sebagai fenomena yang dapat dipelajari dan dikelola bersama.
Kegiatan ini juga terintegrasi dengan program Pengabdian Masyarakat Skema Top-Down 2025 berjudul “Sosialisasi Pemodelan Sedimentasi untuk Mitigasi Risiko Banjir di Sungai Citarum Ruas Majalaya”. Program ini menghadirkan akademisi dari Kelompok Keahlian Teknik Sumber Daya Air ITB, yakni Dr. Ana Nurganah Chaidar, S.T, M.T., Dr. Eng. Arno Adi Kuntoro, S.T, M.T., dan Faizal Immaddudin Wira Rohmat, ST, MT, Ph.D, bersama komunitas Yayasan Jaga Balai dan Siaga Warga Majalaya (SWM) sebagai mitra lapangan. Melalui kolaborasi ini, ITB berupaya memperkuat jembatan antara ruang akademik dan masyarakat. Dari laboratorium ke lapangan, dari teori ke aksi nyata, kegiatan ini menjadi cara baru untuk menanamkan kesadaran kebencanaan kepada generasi muda Majalaya.
Belajar Lewat Eduwisata: Sains yang Dihidupkan di Laboratorium
Alih-alih duduk di ruang kelas dan mendengarkan ceramah panjang, para pelajar diajak berkeliling menelusuri laboratorium-laboratorium riset di ITB Kampus Jatinangor. Suasana pagi itu berbeda dari kegiatan sekolah biasa; penuh tawa, rasa ingin tahu, dan kamera ponsel yang tak berhenti mengambil gambar.
Di Laboratorium Rekayasa Sungai dan Angkutan Sedimen, peserta disambut oleh model fisik sungai lengkap dengan aliran air dan butiran pasir halus. Di sini mereka belajar bagaimana kemiringan dasar sungai, kecepatan arus, dan ukuran partikel sedimen dapat menyebabkan pendangkalan, dan pada akhirnya menurunkan kapasitas tampung sungai.
Para mahasiswa pendamping dari Program Studi Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air menjelaskan secara sederhana: “Kalau dasar sungai makin dangkal, air makin cepat meluap. Ini sama seperti gelas yang diisi pasir—airnya mudah tumpah.” Penjelasan yang ringan, tetapi mengena. Sains dihidupkan melalui visualisasi yang bisa disentuh dan diamati langsung.
Sesi berikutnya berlanjut ke Laboratorium Hidrologi dan Hidraulika, tempat peserta menyaksikan simulasi hujan buatan dan aliran permukaan. Dengan semprotan air yang mengucur dari atas permukaan model miniatur daerah aliran sungai, peserta diajak melihat bagaimana air hujan bergerak, meresap, atau mengalir hingga membentuk debit di sungai.
Mahasiswa menjelaskan peran model rainfall-runoff untuk memperkirakan debit banjir serta menguji efektivitas sistem drainase. Bagi sebagian peserta, ini adalah pengalaman pertama melihat sains bekerja sedekat itu dengan kehidupan nyata. “Saya baru tahu kalau banjir bisa disimulasikan pakai alat seperti ini. Ternyata banjir bisa diprediksi,” ujar salah satu pelajar dengan antusias. Kegiatan di laboratorium ini menunjukkan bahwa belajar kebencanaan tak harus kaku. Dengan pendekatan eduwisata, konsep yang rumit seperti sedimentasi dan hidrologi dapat diterjemahkan menjadi permainan yang mengasyikkan, membuka peluang bagi peserta untuk memahami banjir dari sudut pandang baru.
Dari Sungai ke Simulasi: Mengenal Teknologi Mitigasi Banjir
Selain pengenalan laboratorium, peserta juga mengikuti sesi pemaparan interaktif mengenai pemodelan hidrologi dan hidraulika, dua perangkat ilmiah yang kerap digunakan peneliti ITB dalam memahami perilaku sungai dan banjir di kawasan Citarum Hulu. Dalam sesi ini, tim dosen menjelaskan bagaimana perangkat lunak seperti HEC-RAS dan HEC-HMS digunakan untuk mensimulasikan aliran sungai, debit banjir, hingga dampak sedimentasi terhadap kapasitas tampung sungai.
Melalui simulasi dan visualisasi, para peserta belajar bagaimana model dapat membantu menentukan zona rawan banjir, menguji efektivitas pengendalian sedimen, atau merancang strategi pengurangan risiko. Pendekatan ini diharapkan menumbuhkan rasa ingin tahu ilmiah di kalangan pelajar, sekaligus memperlihatkan bahwa teknologi bukan sekadar urusan laboratorium, tetapi alat untuk melindungi kehidupan masyarakat.
Sesi ini juga menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan realitas lapangan. Para dosen menekankan bahwa pemodelan hanyalah alat bantu; kunci mitigasi tetap terletak pada kolaborasi manusia—antara peneliti, pemerintah, dan warga. Kesadaran ini menjadi bekal penting bagi para peserta yang kelak akan menjadi generasi penerus relawan kebencanaan di Majalaya.
Membangun Jembatan antara Kampus dan Komunitas
Kegiatan Ulin Bari Diajar Ngaguar Banjir Majalaya 2025 bukanlah inisiatif tunggal yang berdiri sendiri. Ia merupakan kelanjutan dari semangat yang tumbuh sejak Pengabdian Masyarakat ITB 2024, ketika para akademisi bersama Komunitas Siaga Warga Majalaya menggelar kegiatan edukatif di Majalaya dengan konsep belajar sambil bermain.
Jika tahun 2024 difokuskan pada edukasi kebencanaan di wilayah terdampak langsung, maka tahun 2025 membawa peserta ke sumber ilmu (kampus ITB Jatinangor) untuk melihat bagaimana banjir dipelajari melalui sains dan teknologi. Pergeseran lokasi ini bukan sekadar perubahan tempat, melainkan simbol transformasi pengetahuan: dari pengalaman lapangan menuju pemahaman akademik yang dapat memperkuat kesiapsiagaan komunitas.
Dosen dan mahasiswa ITB bertindak sebagai fasilitator pengetahuan, sementara komunitas relawan Majalaya berperan sebagai penghubung nilai-nilai lokal dan pengalaman lapangan. Sinergi ini melahirkan pembelajaran dua arah—kampus belajar dari masyarakat, dan masyarakat belajar dari kampus. Model seperti ini sejalan dengan semangat living laboratory yang terus dikembangkan ITB: menjadikan kawasan terdampak bencana sebagai ruang belajar bersama yang hidup dan berkelanjutan. Ketua Yayasan Jaga Balai, Ahdan Syahru Ramdani, menegaskan pentingnya menjembatani pengalaman warga dengan pengetahuan ilmiah. “Kami senang bisa belajar langsung dari akademisi. Harapannya, ilmu ini bisa kami terapkan saat mendampingi masyarakat menghadapi banjir di Majalaya,” ujarnya.
Langkah Kecil, Dampak Panjang: Harapan dari Generasi Baru Majalaya
Bagi tim dosen ITB, momen seperti ini jauh melampaui ukuran keberhasilan akademik. Ia menjadi cerminan bahwa pengabdian masyarakat bukan sekedar transfer ilmu, melainkan juga transfer semangat. Regenerasi relawan kebencanaan tak bisa dipaksakan; ia tumbuh dari rasa ingin tahu, empati, dan keterhubungan dengan tempat tinggal mereka. Dan semua itu hanya bisa ditumbuhkan lewat pendekatan yang menyenangkan dan bermakna.
Melalui kegiatan eduwisata ini, ITB menunjukkan komitmennya untuk terus mendampingi masyarakat Majalaya dalam upaya mitigasi banjir berbasis pengetahuan. Pendekatan ini tidak berhenti pada satu kali kegiatan. Bagi masyarakat Majalaya, program ini bukan hanya kunjungan ke kampus, tetapi sebuah pengalaman yang membuka cakrawala baru: bahwa banjir bisa dikelola, dan mereka punya peran penting di dalamnya. Dari Jatinangor, bibit-bibit relawan muda itu pulang dengan pemahaman baru, bahwa kesiapsiagaan bukan hanya soal alat dan sistem, melainkan tentang kesadaran untuk saling menjaga.
Pada akhirnya, kegiatan Ulin Bari Diajar Ngaguar Banjir Majalaya 2025 menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dapat melahirkan inovasi sosial yang berdampak panjang. Ketika ilmu pengetahuan berpadu dengan kepedulian, ketika kampus membuka diri bagi warga, dan ketika anak muda diberi ruang untuk belajar dan bermimpi, maka di situlah harapan baru bagi Majalaya tumbuh perlahan, tapi pasti.