NUNUKAN — Di tengah bayang-bayang krisis iklim global, Indonesia memegang peran strategis sebagai rumah bagi 75% spesies mangrove dan 20% dari total luasan lahan mangrove dunia. Ekosistem pesisir ini merupakan aset tak ternilai karena mampu menyerap karbon empat kali lebih tinggi dibanding hutan tropis. Namun ironisnya, dalam empat dekade terakhir, sekitar satu juta hektar ekosistem ini mengalami degradasi ekstrem akibat alih fungsi lahan dan pembalakan liar.
Menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat lintas perguruan tinggi meluncurkan inovasi bertajuk SPACEMANGROVE (Spatial and Community-Based Ecotourism Mangrove). Program kolaboratif ini diketuai oleh Dr. Prima Roza, S.E., M.Ed. Admin. (Dosen Kelompok Keahlian Ilmu-Ilmu Kemanusiaan FSRD, Institut Teknologi Bandung/ITB).
Dalam pelaksanaannya, beliau menggandeng pakar dan akademisi lintas keilmuan, yakni Esa Fajar H., M.Si. (Dosen Program Studi Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya) dan Miga Magenika Julian, S.T., M.T. (Dosen Kelompok Keahlian Hidrografi Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika, ITB). Sinergi ini turut diperkuat oleh keterlibatan aktif para mahasiswa, yaitu Desvi Prasanti (Universitas Brawijaya), serta Wulan Larisa Olivia, Alena Cansery, dan Ichsan Siroj (ITB). Inisiatif ini secara spesifik menyasar Desa Srinanti di Kecamatan Sei Menggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, sebuah kawasan perbatasan yang memiliki area hutan mangrove desa seluas 4.985 hektar.
Isu utama yang dihadapi nelayan lokal Srinanti adalah keterbatasan pengawasan yang memicu maraknya pembalakan liar kayu mangrove. Melalui model SPACEMANGROVE, tim menawarkan solusi berupa integrasi antara konservasi dan ekowisata berbasis perahu motor. Harapannya, aktivitas pariwisata ini dapat menjadi bentuk kontrol sosial yang efektif untuk menekan laju pembalakan liar, sekaligus menggerakkan roda ekonomi desa.
Proses transformasi ini dibagi ke dalam tiga tahap utama. Pertama, Focus Group Discussion (FGD) bersama tokoh masyarakat dan mahasiswa KKN Universitas Borneo Tarakan guna menyepakati batas delineasi kawasan konservasi agar tidak tumpang tindih dengan pihak lain.
Kedua, tim melakukan survei langsung sejauh 16 kilometer untuk merancang rute susur mangrove. Survei ini didukung oleh teknologi Global Positioning System (GPS) untuk geotagging spesies flora dan fauna, termasuk habitat bekantan, serta pemetaan area menggunakan drone. Tim juga memanfaatkan citra satelit untuk mengestimasi cadangan karbon (carbon stock) di kawasan tersebut. Seluruh data spasial ini kemudian diintegrasikan ke dalam sebuah platform WebGIS yang bisa diakses publik.
Ketiga, pemberdayaan pemuda desa melalui penyuluhan dan pelatihan pembuatan konten digital, mulai dari teknik pengambilan video hingga penyuntingan dasar, agar mereka siap mempromosikan potensi desanya secara mandiri dan kreatif.
Kehadiran program ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Kepala Desa Srinanti, Rusmini, optimistis bahwa inisiatif ini akan membuka peluang ekonomi baru. "Kalau wisata ini bisa jalan, warga juga bisa menambah penghasilan mulai dari jasa perahu, konsumsi, sampai produk lokal. Kami sepakat mangrove ini harus kita jaga sama-sama," tuturnya.
Ketua Pokdarwis Desa Srinanti, Richi, juga menyadari pentingnya pembenahan untuk menjadi desa wisata yang matang. “Setelah tim datang, kami jadi sadar pentingnya pelibatan pemuda, perbaikan fasilitas kapal, dan penginapan. Kami berharap ada pendampingan lanjutan agar masyarakat makin siap,” ungkapnya.
Hal senada diungkapkan oleh Risna, seorang pengajar SMP di Desa Srinanti, yang merasa kegiatan pemetaan sangat membantu warga memahami batas wilayah kelola mangrove secara legal dan aman untuk wisata. Zhafran, murid SMP setempat, juga mengaku mendapatkan wawasan baru bahwa membuat konten promosi membutuhkan perencanaan yang matang, bukan sekadar merekam dan menyunting video.
Sebagai sebuah prototipe awal, model SPACEMANGROVE-I akan terus mengevaluasi umpan balik dari warga. Namun, langkah konkret di Desa Srinanti ini telah membuktikan bahwa pelestarian ekologi bisa berjalan selaras dengan kemandirian ekonomi, menjadikannya model potensial untuk diadaptasi di kawasan pesisir lain di seluruh Indonesia.