Penulis:
Dr. Cecep, S.Th.I., M.A.
Fakultas Seni Rupa dan Desain
Institut Teknologi Bandung
Limbah daun kering kerap menjadi persoalan kebersihan dan lingkungan yang terabaikan di kawasan tempat ibadah serta area kampus berskala besar. Di Masjid Al-Jabbar ITB Kampus Jatinangor, posisi lanskap masjid yang berbatasan langsung dengan kawasan Arboretum ITB menghasilkan guguran sampah daun organik secara masif dan terus-menerus setiap harinya. Selama ini, cara praktis yang kerap diambil warga maupun pengelola adalah melakukan pembakaran terbuka (open burning) di lokasi. Padahal, pembakaran daun kering menghasilkan asap berbahaya dengan partikel halus pemicu gangguan pernapasan bagi para jemaah, berisiko memicu kebakaran di area kampus yang ramai, serta menimbulkan masalah baru berupa sarang hama dan jamur jika dibiarkan menumpuk. Merespons dilema ekologis tersebut, tim pengabdian masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB) menggulirkan pendekatan inovatif bertajuk Ekoteologi. Berpusat di Masjid Al-Jabbar ITB Jatinangor, program berbasis riset ini mengintegrasikan nilai-nilai teologi keagamaan dengan solusi rekayasa teknologi pengolahan limbah organik menjadi briket biomassa energi alternatif.
Landasan Filosofis: Mengawinkan Teologi Agama dan Solusi Ekologi
Konsep ekoteologi hadir sebagai sintesis antara kesadaran spiritual dan ilmu pengetahuan modern dalam merespons krisis lingkungan global yang kian mengkhawatirkan. Ketua tim pengabdian masyarakat ITB sekaligus peneliti Agama Islam, Dr. Cecep, S.Th.I., M.A., menjelaskan bahwa menggerakkan kesadaran pelestarian lingkungan melalui jalur keagamaan merupakan strategi yang sangat realistis, efektif, dan memiliki daya jangkau kultural yang kuat di Indonesia. Landasan berbangsa dan bernegara yang menjunjung tinggi nilai Ketuhanan Yang Maha Esa menjadikan pendekatan spiritual terasa lebih dekat, membumi, serta mudah diterima oleh seluruh lapisan masyarakat dibanding sekadar sosialisasi bernada regulasi atau himbauan formal akademis belaka.
Menurut Dr. Cecep, S.Th.I., M.A., doktrin keagamaan pada dasarnya memiliki mandat ekologis yang sangat kuat. Dalam ajaran Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah fil 'ardh atau pengelola dan pemelihara bumi, bukan perusak ekosistem. Namun, selama ini pesan-pesan keagamaan sering kali berhenti pada ranah eskatologis atau ritual peribadatan personal belaka. Melalui gerakan ekoteologi, narasi keagamaan ditarik ke dalam ranah aksi sosial yang konkret. Menjaga kebersihan lingkungan, mengolah limbah secara bijak, dan mencegah kerusakan alam ditegaskan kembali sebagai bagian integral dari keimanan dan wujud ibadah muamalah.
Bekerja sama dengan sivitas akademika Teknik Lingkungan ITB, Dr. Cecep menjadikan Masjid Al-Jabbar ITB Jatinangor sebagai lokasi percontohan (pilot project). Pemilihan masjid kampus ini dipandang sangat strategis dari sudut pandang sosiologis dan edukatif. Selain berfungsi sebagai pusat kegiatan ibadah spiritual, Masjid Al-Jabbar merupakan titik temu lintas generasi dan lintas disiplin ilmu—mulai dari para cendekiawan, dosen, peneliti, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang berdomisili di sekitar kawasan pendidikan Jatinangor.
Melalui ruang-ruang keagamaan yang sudah mengakar kuat di tengah masyarakat—seperti mimbar khotbah Jumat, majelis ceramah usai salat fardhu, pengajian rutin, hingga forum diskusi ilmiah—masyarakat diedukasi secara sistematis untuk menjaga kesehatan ekosistem. Teknologi pengolahan sampah diposisikan bukan sekadar sebagai perangkat teknis teknokratis, melainkan sebagai bentuk manifestasi rasa syukur, kerendahan hati, dan wujud tanggung jawab moral manusia atas anugerah alam yang telah dilimpahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Detail Rekayasa Teknis: Sains Biomassa dan Empat Tahapan Pembuatan Briket
Puncak dari rangkaian kegiatan edukasi ekoteologi ini dilaksanakan secara langsung pada Jumat (24/7/2026). Segera setelah pelaksanaan ibadah salat Jumat berjamaah, tim mahasiswa Teknik Lingkungan ITB menggelar pelatihan interaktif di area pelataran Masjid Al-Jabbar ITB Jatinangor. Pelatihan ini mempraktikkan secara langsung pengolahan limbah daun kering dari Arboretum ITB menjadi briket biomassa berkalori tinggi yang siap pakai.
Secara sains, daun kering sangat cocok dijadikan bahan baku briket karena kaya akan kandungan selulosa dan lignin yang menyimpan energi kimia berlimpah. Agar metode pengolahan limbah organik ini dapat dengan mudah dipahami dan direplikasi secara mandiri oleh jemaah maupun pengurus rumah ibadah lain di kediaman masing-masing, tim Teknik Lingkungan ITB merancang alur pembuatan briket secara praktis melalui empat tahapan utama:
1. Fase Karbonisasi (Pembakaran Terkontrol):
Guguran daun kering dari kawasan Arboretum ITB yang telah dikumpulkan dipanaskan secara perlahan menggunakan wajan stainless steel yang ditutup rapat. Proses ini menggunakan api sedang dengan jangka waktu antara 20 hingga 40 menit. Kunci utama dalam tahapan ini adalah menjaga kondisi pembakaran agar minim oksigen (prinsip pirolisis sederhana). Melalui pirolisis, air dan zat mudah menguap (volatile matter) hilang sebagai asap tipis, menyisakan karbon padat sebagai penyimpan energi panas terbesar dan paling stabil.
2. Fase Penghalusan dan Pengayakan (Sizing):
Arang daun yang telah mendingin kemudian ditumbuk secara manual menggunakan alat tradisional berupa lesung dan alu kayu. Setelah ditumbuk hingga hancur, serbuk arang diayak menggunakan ayakan halus untuk memisahkan partikel kasar. Kehalusan dan keseragaman ukuran partikel serbuk arang sangat menentukan kerapatan antar-molekul saat dicetak. Semakin halus ukuran partikel arang, semakin rapat dan kokoh briket yang dihasilkan.
3. Fase Pencampuran Adonan dan Pencetakan (Compacting):
Serbuk arang daun yang telah diayak kemudian dicampur dengan cairan perekat alami (binder) yang terbuat dari larutan tepung tapioka. Penggunaan tapioka dipilih karena merupakan bahan pangan alami yang aman, bukan bahan kimia sintetis, serta tidak menghasilkan gas berbahaya saat dibakar. Formulasi yang digunakan memakai rasio presisi, yaitu tiga bagian serbuk arang berbanding dua bagian cairan perekat tapioka. Setelah adonan tercampur secara merata dan mencapai tingkat kekalisan yang ideal, bahan dimasukkan ke dalam cetakan pipa PVC sederhana, lalu ditekan secara kuat menggunakan tuas pres manual agar terpadatkan secara maksimal tanpa menyisakan rongga udara di dalamnya.
4. Fase Pengeringan Alami (Drying):
Briket basah yang telah berhasil dikeluarkan dari pipa cetakan kemudian disusun rapi di atas nampan dan dijemur di bawah paparan terik sinar matahari langsung selama 4 hingga 6 hari. Proses penjemuran secara alami ini sangat krusial untuk menguapkan seluruh kandungan air di dalam briket. Briket biomassa yang siap pakai ditandai dengan bobot yang ringan, tekstur keras dan tidak mengotori tangan, serta mengeluarkan bunyi "tuk-tuk-tuk" yang nyaring saat dua buah briket diadukan.
Dampak Sosial, Respon Antusias, dan Harapan Keberlanjutan
Sesi pelatihan interaktif ini berlangsung hangat, komunikatif, dan mendapat antusiasme tinggi dari para jemaah masjid. Kegiatan ini diikuti oleh 45 peserta yang berasal dari latar belakang sosial dan akademis yang sangat beragam—mulai dari dosen Universitas Padjadjaran (Unpad), mahasiswa lintas jurusan, pengurus (takmir) Masjid Al-Jabbar, santri dari pesantren lokal, hingga warga yang bermukim di pemukiman sekitar kampus Jatinangor. Kehadiran peserta lintas lini ini membuktikan bahwa isu pelestarian lingkungan hidup mampu menjadi jembatan pemersatu bagi berbagai elemen masyarakat.
Para peserta terlihat aktif terlibat dari awal hingga akhir proses. Mereka tidak canggung untuk ikut menumbuk arang daun, mengaduk adonan perekat tapioka, hingga mengoperasikan alat pencetak briket sederhana. Keberhasilan mencetak briket menggunakan tangan sendiri memberikan rasa puas dan dorongan motivasi yang kuat bagi para peserta untuk menerapkannya di lingkungan rumah tangga masing-masing. Sebagai bentuk apresiasi dan aksi nyata keberlanjutan, seluruh hasil briket yang telah dijemur hingga kering sempurna dihibahkan kembali kepada para jemaah dan warga setempat yang membutuhkan bahan bakar alternatif untuk keperluan memasak harian atau usaha kecil.
Peserta pelatihan, Marudin, menegaskan bahwa model integrasi antara pesan moral agama dan aksi nyata berbasis rekayasa lingkungan seperti ini merupakan kebutuhan mendesak bagi masyarakat modern. Menurutnya, persoalan krisis sampah tidak akan pernah selesai jika hanya didekati dengan teori di ruang kuliah atau penceramahan di atas mimbar, melainkan harus dibarengi dengan praktik sederhana yang manfaat teknis dan ekonomisnya dapat dirasakan langsung oleh warga.
Hal senada diungkapkan oleh peserta lainnya, Wildan. Ia menekankan pentingnya keberlanjutan dan perluasan jangkauan program ekoteologi ini ke wilayah-wilayah lain. "Pelatihan seperti ini harus makin sering disebarkan melalui kegiatan di masjid sebagai bagian dari bentuk dakwah yang konkret," ujar Wildan.
Ia juga mendoakan agar tim pengabdian ITB di bawah arahan Dr. Cecep, S.Th.I., M.A. dapat terus konsisten mengembangkan inovasi ekoteologi yang lebih revolusioner sebagai wujud syiar agama yang berdampak positif bagi alam. Harapan besarnya, pendekatan ekoteologi tidak berhenti di lingkungan masjid saja, tetapi juga dapat diadaptasi dan diterapkan pada ruang-ruang ibadah lintas keyakinan di seluruh Indonesia demi mewujudkan kelestarian ekosistem dan bumi yang berkelanjutan bersama.
Komparasi Keunggulan & Tanda Briket Biomassa Siap Pakai
Tulisan pendukung ini menyajikan perbandingan teknis serta indikator fisik kualitas briket daun kering guna mempermudah pemahaman masyarakat luas dalam mengadopsi teknologi tepat guna ini secara mandiri.
1. Komparasi: Pembakaran Konvensional vs. Briket Biomassa
|
Parameter |
Daun/Kayu Bakar Biasa |
Briket Biomassa Daun Kering |
|
Karakter Api |
Nyala api fluktuatif & tidak stabil |
Nyala api konstan, konsisten, & berpanas tinggi |
|
Asap & Abu |
Menghasilkan asap pekat & sisa abu melimpah |
Asap dan abu jauh lebih sedikit |
|
Efisiensi Energi |
Cepat habis terbakar & boros bahan baku |
Padat energi, awet, & tahan lama |
|
Penyimpanan |
Berantakan, butuh ruang luas, & mudah lembap |
Bentuk seragam, rapi, & mudah disimpan |
2. Tiga Indikator Fisik Briket Siap Pakai
Masyarakat dapat menguji kualitas briket daun hasil buatan sendiri menggunakan indera secara langsung sebelum digunakan di dapur:
3. Panduan Singkat Cara Penyulutan Api Briket