Riama Maslan Sihombing
Program pengabdian ini, bertujuan untuk meng implementasikan dan menyempurnakan media interaktif pembelajaran bahasa Inggris bagi siswa sekolah dasar di Kecamatan Sugie Besar, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Konteks wilayah pesisir, keterbatasan listrik, dan ketiadaan perangkat digital di kelas menuntut solusi pembelajaran yang bersifat low-tech namun tetap menarik dan efektif. Berbasis pada buku cerita bergambar dwibahasa yang sebelumnya dirancang dalam tugas akhir sarjana oleh Winda Kartika Laoli, tim menyusun satu paket media interaktif yang terdiri atas buku cerita bergambar, lembar kerja, dan kartu permainan kosakata yang merefleksikan kehi dupan sehari-hari anak-anak pulau. Metode kegiatan menggabungkan pendekatan riset dan pengembangan (R&D) dengan observasi partisipatif melalui beberapa sesi pembelajaran bahasa Inggris. Fokus utama program ini adalah pelaksanaan di lapangan: mengajar dengan menggunakan media, mengamati keterlibatan, motivasi, keberanian berbicara, serta penggunaan kosakata dasar siswa, dan mendokumentasikan proses tersebut melalui foto serta catatan reflektif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan partisipasi dan kepercayaan diri siswa, sekaligus memperkaya praktik mengajar tutor lokal dan memberikan umpan balik konkret untuk penyempurnaan desain buku cerita bergambar awal.
Program berhasil memvalidasi bahwa picturebook dwibahasa kontekstual dapat digunakan efektif di kelas tanpa listrik dan gawai. Sebagian besar anak mampu mengingat dan menyebut kembali beberapa kosakata kunci serta menunjukkan keberanian awal menirukan sapaan dan ungkapan sederhana dalam bahasa Inggris. Dari sisi akademik, tugas akhir mahasiswa teruji di lapangan dan menghasilkan umpan balik nyata untuk perbaikan desain media dan perancangan penelitian lanjutan.
Penerima manfaat langsung adalah anak-anak Pulau Sugie usia 7–10 tahun dan tutor/guru lokal. Anak mendapatkan pengalaman belajar bahasa Inggris yang lebih menyenangkan, interaktif, dan dekat dengan kehidupan mereka, sehingga kepercayaan diri berbahasa mulai tumbuh. Tutor memperoleh contoh model pembelajaran low-tech yang praktis dan dapat diulang, yang dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan kualitas proses belajar dan membuka peluang literasi bahasa bagi komunitas di kawasan pariwisata.