Mutiara Rachmat Putri
Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, memiliki potensi sektor kelautan dan perikanan yang besar namun daerah ini masih tertinggal dibandingkan dengan wilayah lain, dengan angka kemiskinan 28.13%. Kegiatan ekonomi didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan (~35% PDRB); 4.392 rumah tangga bergantung pada budidaya rumput laut (produksi 51.890 ton, 2022). Tantangan terbesar di daerah ini adalah cuaca dan iklim. Cuaca ekstrem dapat terjadi setiap saat. Dampak perubahan iklim dan Badai Seroja 2021 menurunkan mutu bibit dan mengancam mata pencaharaian Perempuan pembudidaya di Pulau Sabu. Program Pengabdian Masyarakat ITB 2025 di Desa Bodae merespons lewat “Pemberdayaan Perempuan melalui Kebun Bibit Rumput Laut sebagai Strategi Adaptasi Perubahan Iklim” untuk menjamin bibit bermutu, menekan biaya, menstabilkan hasil, serta memperkuat peran perempuan dalam ekonomi pesisir, sekaligus menjadi model adaptasi iklim di Sabu Raijua. Antisipasi dan adaptasi terhadap cuaca ekstrem dan perubahan iklim memang sangat diperlukan disini. Pemilihan Teknik penanaman bibit rumput laut diperlukan dalam adaptasi cuaca dan iklim. Meskipun Program kebun bibit rumput laut di Desa Bodae Pulau Sabu belum menghasilkan sesuai harapan, namun capaian kuantitatifnya berupa pembentukan kelompok inti perempuan “Mira Kaddi Hari” (10 anggota) dan melibatkan hingga 5-6 orang masing-masing anggota keluarganya. Total 50-60 orang yang terlibat dalam kegiatan ini.
Program telah dilaksanakan 100% namun terdapat kendala cuaca ekstrem setelah 2-3 bulan penanaman, sehingga banyak bibit yang mati. Tinggal 2-3 lajur, itupun dalam kondisi menguning.
Terbentuk kelompok inti perempuan “Mira Kaddi Hari” dengan 10 anggota sebagai pengelola kebun bibit, menangani pasokan ±1.5 ton bibit sachol (Eucheuma cottonii) dari Pulau Semau. Kapasitas teknis meningkat, terbentuk mekanisme monitoring dan kalender tanam (Maret–April) oleh kelompok, pemilihan lokasi yang lebih sesuai, serta pelatihan pengendalian penyakit lumut. Peningkatan keterampilan teknis dan peran perempuan dalam keputusan budidaya, didukung monitoring yang memandu penyesuaian waktu tanam, lokasi optimal, dan pengendalian penyakit lumut. Namun belum mendapatkan hasil panen yang signifikan.