Noviana Vanawati
Data tahun 2023 menunjukkan prevalensi anemia di Kabupaten Sumedang masih tinggi, yaitu sekitar 23% atau 5.360 kasus dari 15.822 jiwa, dengan kelompok rentan di antaranya adalah ibu-ibu tani yang sehari-hari terpapar pestisida. Paparan pestisida yang tidak terkontrol dapat memengaruhi kadar hemoglobin, meningkatkan kerusakan sel darah merah, serta menimbulkan gangguan perkembangan pada anak, terutama bila terjadi pada masa kehamilan dan menyusui. Kegiatan dirancang secara holistik melalui penyuluhan kesehatan mengenai bahaya paparan pestisida dan dilanjutkan dengan pelatihan praktis teknik mencuci sayur dan buah agar lebih aman. Melalui pendekatan ini diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku, dan penurunan risiko paparan pestisida yang secara tidak langsung mendukung peningkatan kesehatan pada ibu-ibu tani di wilayah Cipameungpeuk.
Program berhasil memberikan edukasi kepada masyarakat Desa Cipameungpeuk mengenai sumber paparan pestisida dan dampaknya bagi kesehatan keluarga, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil dan anak. Melalui sesi pelatihan, warga memperoleh keterampilan praktis dalam menerapkan berbagai metode mencuci buah dan sayur (air–garam–cuka, air–baking soda, dan sabun khusus buah dan sayur) serta membandingkannya dengan pencucian menggunakan air biasa. Pengukuran pH dan Total Dissolved Solid (TDS) pada air bekas cucian membantu masyarakat memahami secara konkret perbedaan efektivitas tiap metode. Di akhir kegiatan, program juga mencapai capaian pemberdayaan berupa penyerahan bantuan dana pengembangan sistem hidroponik sebagai langkah awal menuju praktik pertanian yang lebih aman dan sehat.
Penerima manfaat utama program ini adalah masyarakat Desa Cipameungpeuk, terutama keluarga dari kelompok wanita tani, masyarakat desa yang berpartisipasi sebagai pihak yang paling rentan terhadap paparan residu pestisida dari bahan pangan. Selain itu, perangkat desa dan tokoh masyarakat juga diuntungkan melalui peningkatan pemahaman yang dapat diteruskan dalam kegiatan-kegiatan lokal. Bagi KK FPHSB SITH ITB dan mahasiswa yang terlibat, program ini memberikan pengalaman langsung dalam menerapkan keilmuan fisiologi, perkembangan hewan, dan sains biomedika untuk menjawab persoalan kesehatan masyarakat, serta memperkuat hubungan kemitraan dengan pemerintah desa dan warga setempat.