KSE-Days (PKM)
Nama Peneliti (Ketua Tim)

Fifi Fitriyah Masduki



Ringkasan Kegiatan

Sabang adalah destinasi wisata strategis sekaligus wilayah terluar Indonesia yang berisiko terhadap penyakit tular vektor (DBD, malaria, chikungunya, zika). Penguatan surveilans berbasis laboratorium diperlukan agar perlindungan masyarakat dan kepercayaan wisatawan terjaga. Pelaksanaan program. Pada 24–26 Juni 2025. tim DPMK–FMIPA ITB bersama UPTD Labkesda Sabang, Dinas Kesehatan, BRIN–Eijkman, Exeins Health Initiative, dan PT Standard Biosensor menyelenggarakan seminar Evaluasi dan Pendampingan Kader serta Analis Laboratorium untuk Pendeteksian secara Molekuler dan Serologi dalam Penanganan Penyakit Tular Vektor di Wilayah Kota Sabang, Aceh di Aula Bappeda dan pelatihan laboratorium intensif di Labkesda. Materi mencakup dasar PCR dan serologi, biosafety, alur rujukan spesimen, dokumentasi hasil, serta simulasi Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk malaria/arbovirus. Peserta meliputi ATLM, kader puskesmas, RSUD, dan unsur pemerintah daerah. Grup WhatsApp dibentuk sebagai kanal konsultasi teknis pascapelatihan. Kegiatan menghasilkan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, SOP ringkas yang siap pakai, dan alur rujukan yang lebih jelas sehingga pelayanan klinik lebih aman dan berbasis bukti. Surveilans daerah semakin kuat melalui pelaporan terstandar dan koordinasi lintas fasilitas, mendukung perlindungan warga serta keberlanjutan ekonomi pariwisata. Program dilanjutkan dengan klinik kasus daring berkala, coaching on-the-job, uji profisiensi kecil, dan penguatan logistik/reagen. ITB–Pemkot merancang MoU pendampingan, ToT lokal untuk mitigasi rotasi SDM, pengembangan dashboard surveilans sederhana, peluang riset kolaboratif, serta replikasi model ke puskesmas dan wilayah kepulauan 3T lainnya.



Capaian

Berikut capaian utama PengMas Sabang (24–26 Juni 2025): Peningkatan kompetensi SDM: ATLM, kader puskesmas, RSUD dan Dinkes menguasai dasar PCR, serologi, biosafety, serta interpretasi hasil. Praktik & simulasi TCM untuk arbovirus, siap diadopsi dalam alur kerja lab. SOP ringkas & lembar kerja (sampling, rantai dingin, dekontaminasi, pelaporan) untuk pemakaian harian. Penguatan Labkesda: alur rujukan spesimen dan TAT lebih jelas. Surveilans terhubung: template integrasi data lab → puskesmas/Dinkes. Pendampingan berkelanjutan: grup WhatsApp aktif untuk konsultasi teknis. Jejaring kolaborasi ITB–BRIN–EHI–Pemda–industri (Standard Biosensor). Publikasi & advokasi: liputan media meningkatkan dukungan pemangku kepentingan. Rencana replikasi ke wilayah 3T lain dan agenda coaching daring berkala.



Testimoni Masyarakat

Berikut manfaat yang diterima masyarakat Sabang dari program PengMas: Deteksi lebih cepat & akurat penyakit tular vektor → penanganan dini, menurunkan risiko KLB. Akses layanan meningkat: alur rujukan spesimen jelas, TAT hasil lebih singkat. Layanan lab lebih aman: penerapan biosafety dan pengelolaan limbah yang lebih tertib. Tenaga kesehatan lebih terampil (PCR, serologi, TCM) → mutu pelayanan klinik meningkat. Surveilans berbasis data: pelaporan terstandar membantu kebijakan Dinkes yang cepat dan tepat. Edukasi & literasi kesehatan bagi kader → perilaku pencegahan di keluarga/kelurahan membaik. Keberlanjutan pendampingan lewat grup WhatsApp → masalah teknis harian cepat teratasi. Efisiensi biaya & waktu: lebih sedikit rujukan ke luar daerah, menghemat biaya pasien. Selain itu, kegiatan pengmas ini juga menghasilkan SKRIPSI Sarjana Prodi Kimia FMIPA ITB, dengan judul "Analisis Temporal Kasus Infeksi Plasmodium knowlesi di Kota Sabang, Aceh dan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara selama Periode 2023–2024" dengan penulis Shafya Riska Febianti 10521073. Dari hasil penelitian tersebut, kami memberikan rekomendasi kepada PemKot Sabang, bahwa angka kejadian infeksi Plasmodium knowlesi meningkat pada musin peralihan dari curah hujan tinggi ke rendah, dimana informasi ini dapat dijadikan rujukan untuk tata kelola lingkungan dan kesehtan di Pemkot Sabang dalam pengendalian kasus malaria di kota Sabang