Tessa Talitha
Pembangunan berkelanjutan menuntut transformasi sistemik yang melampaui sekadar pemulihan ekosistem, dengan menekankan pada efisiensi sumber daya serta pengurangan limbah. Model ekonomi sirkular hadir sebagai alternatif solusi melalui prinsip penggunaan ulang, daur ulang, dan desain produk berdaya guna panjang, yang kemudian dikembangkan ke dalam kerangka 9R. Dalam konteks industri tekstil, pendekatan ini terbukti mampu memperpanjang siklus hidup produk sekaligus berkontribusi terhadap penurunan emisi global hingga 10%. Indonesia, dengan kapasitas produksi tekstil yang besar serta sektor tekstil sebagai salah satu prioritas dalam Peta Jalan Ekonomi Sirkular 2025–2045. memiliki peluang signifikan untuk mengadopsi model ini. Namun, transisi menuju praktik ekonomi sirkular menghadapi tantangan berupa keterbatasan sumber daya, teknologi, kapasitas kelembagaan, serta rendahnya kesadaran masyarakat, yang lazim ditemui di negara berkembang. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memfasilitasi pengembangan kebijakan ekonomi sirkular sektor tekstil, khususnya industri batik di Kota Pekalongan, melalui identifikasi praktik eksisting, studi literatur, serta pemetaan kolaborasi antaraktor dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular. Pendekatan ini diharapkan mampu memberdayakan masyarakat perdesaan melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan, dan penguatan ekonomi lokal. Selaras dengan misi SAPPK ITB, kegiatan ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu perencanaan wilayah dan kebijakan lingkungan binaan, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui penyusunan modul dan policy brief sebagai panduan kebijakan. Selain itu, penelitian ini menekankan pentingnya kolaborasi multi-pihak, yaitu akademisi, pemerintah, industri, dan komunitas, sebagai model implementasi kebijakan partisipatif yang efektif dalam mendorong transisi menuju pengembangan perekonomian wilayah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Rencana karya nyata yang akan dihasilkan dari kegiatan ini adalah modul dan/atau policy brief mengenai strategi implementasi kebijakan Ekonomi Sirkular di Kota Pekalongan. Selain itu juga membuat forum diskusi antar berbagai stakeholders untuk menunjang implementasi ekonomi sirkular pada sektor tekstil, khususnya Batik.
Kegiatan pengabdian masyawakat ini berusaha mendorong kolaborasi antar stakeholders melalui pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan berbagai pihak terkait, seperti Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Pekalongan, pelaku industri batik, akademisi, dan komunitas pelaku ekonomi sirkular. FGD ini bertujuan untuk mengumpulkan masukan dan perspektif dari berbagai stakeholder guna menyusun strategi yang komprehensif. Setelah FGD, hasil dari pembahasan tersebut akan dirumuskan menjadi modul atau policy brief yang dapat menjadi acuan bagi Pemerintah Kota Pekalongan. Dari kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi awal dari inisiasi kolaborasi untuk menjadikan Kota Pekalongan sebagai flagship penerapan ekonomi sirkular di tingkat daerah. Di akhir kegiatan, hasil dan upaya yang telah dilakukan akan dipublikasikan melalui tulisan di media massa untuk menyebarluaskan kegiatan pengabdian masyarakat kepada masyarakat luas.