Agus Suharjono Ekomadyo
Bendungan Sindangheula yang terletak di Desa Sindangheula, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, merupakan bagian dari proyek strategis nasional yang diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada 4 Maret 2021. Infrastruktur ini memiliki fungsi ragam, antara lain sebagai penyedia air irigasi untuk lahan pertanian seluas 1.289 hektare, sumber air baku untuk kawasan industri di Serang dan Cilegon, pengendali banjir, serta penghasil energi terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga air. Di luar fungsi teknisnya, Bendungan Sindangheula menyimpan potensi besar sebagai kawasan konservasi dan destinasi wisata baru yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Merespons bencana banjir besar yang melanda Kota Serang pada 1 Maret 2022. yang memicu sorotan terhadap sistem pengelolaan sumber daya air, muncul pula kesadaran akan pentingnya mengoptimalkan nilai tambah dari infrastruktur seperti bendungan ini, tidak hanya sebagai sarana teknis, tetapi juga sebagai pengungkit pengembangan desa. Desa Sindangheula, sebagai lokasi bendungan, kemudian menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), yang menunjukkan komitmen untuk mendukung pengembangan potensi wisata. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan untuk merancang masterplan kawasan wisata Desa Sindangheula dengan memanfaatkan potensi eksisting Bendungan Sindangheula sebagai elemen utama lanskap. Pendekatan yang digunakan adalah design thinking, yaitu pendekatan perancangan yang berpusat pada manusia human-centered, bersifat inovatif, kontekstual secara sosial, serta berorientasi pada keberlanjutan. Melalui observasi lapangan, wawancara dengan pemangku kepentingan, serta analisis spasial dan sosial budaya, dilakukan proses identifikasi potensi dan perumusan konsep kawasan. Hasil masterplan Sindangheula dirancang dengan enam zona utama dan dua jalur akses. Enam zona itu meliputi area plaza, olahraga, pendidikan, kuliner, seni-budaya, dan rekreasi. Pembagian ini tidak muncul begitu saja, melainkan hasil dari proses wawancara, observasi lapangan, dan penelusuran potensi yang dimiliki Kawasan sekitar. Dari situ terlihat bahwa daya tarik terbesar Sindangheula terletak pada panorama alamnya yang menawan, disusul potensi budaya dan sejarah seperti pertunjukan seni, serta geliat ekonomi lokal melalui kuliner dan UMKM warga desa. Semua elemen ini menjadi dasar untuk merancang kawasan wisata yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Luaran utama dari kegiatan ini adalah dokumen masterplan kawasan wisata Desa Sindangheula yang tidak hanya mengakomodasi potensi pariwisata, tetapi juga mempertimbangkan aspek konservasi, pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, dan penguatan identitas desa. Masterplan ini dirancang untuk dapat didaftarkan sebagai karya cipta, serta akan diseminasi melalui saluran media massa elektronik. Diharapkan, hasil kegiatan ini dapat menjadi pijakan awal dalam mewujudkan kawasan wisata berkelanjutan yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa secara inklusif.
Capaian utama dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah tersusunnya Masterplan Kawasan Wisata Bendungan Sindangheula. Melalui observasi lapangan, wawancara, serta analisis potensi kawasan, tim perancang merumuskan enam zona utama dan dua jalur akses, yaitu: plaza, olahraga, pendidikan, kuliner, seni-budaya, dan rekreasi. Struktur zonasi ini dibangun berdasarkan potensi alam, budaya, dan ekonomi lokal yang telah teridentifikasi, sehingga masterplan yang dihasilkan tidak hanya fungsional dan terukur, tetapi juga relevan untuk mendukung pengembangan desa secara berkelanjutan. Selain itu, identifikasi kebutuhan infrastruktur juga dilakukan, termasuk pengembangan jaringan jalan untuk menghubungkan fungsi kawasan dengan akses dari Pondok Pesantren dan Jalan Bongla agar mobilitas pengunjung dan aktivitas wisata dapat berlangsung lebih optimal. Rencana kegiatan pengabdian masyarakat ini diawali dengan tahap persiapan dan koordinasi, meliputi komunikasi internal serta penjajakan awal dengan para pelaku kunci yang terlibat dalam perencanaan kawasan wisata Desa Sindangheula. Tahap berikutnya adalah kajian awal mengenai karakteristik desa, yang dilanjutkan dengan proses wawancara. Wawancara dilakukan melalui penyusunan kerangka pertanyaan, koordinasi teknis dengan para pemangku kepentingan, serta pemetaan potensi, persoalan, dan isu yang berkembang. Setelah itu, tim menyusun masterplan kawasan wisata melalui serangkaian tahapan yang dimulai dari kajian spasial skala makro, meso, dan mikro, termasuk benchmarking dan telaah regulasi. Hasil kajian digunakan untuk merumuskan visi, misi, dan strategi pengembangan kawasan yang kemudian diperdalam melalui Focus Group Discussion (FGD) secara daring. Berdasarkan hasil FGD tersebut, disusun masterplan yang mencakup studi massa bangunan, intensitas lahan, konsep keberlanjutan, sirkulasi, ruang terbuka, ilustrasi 3D, serta rencana tahapan pembangunan, yang semuanya dirangkum dalam Laporan Akhir. Tahap penutup berupa Adalah evaluasi untuk meninjau kembali masterplan yang telah disusun, dan seluruh rangkaian kegiatan telah terlaksana dengan baik.
• Penerima manfaat utama dari masterplan kawasan wisata Bendungan Sindangheula adalah masyarakat Desa Sindangheula, yang akan memperoleh peluang peningkatan ekonomi melalui pengembangan UMKM, aktivitas wisata, dan pemanfaatan ruang publik yang lebih terstruktur. • Pemerintah Desa Sindangheula juga menjadi pihak yang diuntungkan melalui tersedianya dokumen perencanaan yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan desa wisata, pengajuan pendanaan, dan penguatan kelembagaan. • Pemerintah daerah dan instansi terkait mendapatkan arah pengembangan kawasan yang lebih jelas untuk sinkronisasi program lintas sektor. Wisatawan dan pengunjung turut menjadi penerima manfaat melalui terciptanya destinasi wisata yang lebih tertata, aman, dan nyaman untuk dikunjungi. Secara keseluruhan, masterplan ini memberikan manfaat jangka panjang dalam memperkuat identitas kawasan, meningkatkan daya tarik wisata, dan mendorong pembangunan desa yang berkelanjutan.