Pengembangan Purwarupa Teleskop Radio untuk Pendidikan
Nama Peneliti (Ketua Tim)

Mohammad Zaini Dahlan



Ringkasan Kegiatan

Pengabdian masyarakat ini merupakan realisasi dari hasil temuan dalam penelitian terkait kajian aspek lokalitas dalam penataan kampung Batu Lonceng di kawasan Sesar Lembang pada tahun 2022. Kajian yang meliputi aspek kebencanaan, ekologi, dan sosial dilatarbelakangi oleh pemahaman bahwa kekayaan sumber daya alam dan lingkungan serta kearifan lokal masyarakatnya terwujud dalam sebuah tatanan lanskap budaya. Ragam nilai dan norma yang disepakati menjadi acuan dalam memanfaatkan lanskap alam secara turun-temurun, sehingga menjadi kumpulan pengetahuan ekologik tradisional masyarakat. Kearifan yang telah teruji lintas generasi, merupakan sumber ilmu pengetahuan yang dapat menjadi inspirasi dalam pengelolaan sumber daya lanskap alam saat ini dan masa mendatang (Brahmantyo, 2011; Farina, 2001). Lanskap budaya diekspresikan pula oleh masyarakat dalam bentuk pengetahuan mitigasi bencana. Hal ini pula yang ditemukan dalam kajian bahwa masyarakat memiliki kearifan lokal dalam beradaptasi di lingkungan binaan dengan kerentanaan bencana yang tinggi (Brahmantyo, 2011). Pengetahuan ekologi tradisional tentang ruang kehidupan seperti penentuan peruntukan lahan bagi permukiman, pertanian, maupun perlindungan; penggunaan material lokal ramah lingkungan; pemanfaatan sumber daya hayati lokal dalam konservasi lingkungan masih dilestarikan. Lebih lanjut, ditemukan pula informasi bahwa masyarakat meyakini keberadaan situs arkeologi berupa batu berbentuk lonceng sebagai pengingat (reminder) akan pentingnya menjaga keselarasan antara manusia dan lingkungannya. Namun demikian, menempati ruang dengan kerentanan tinggi terdampak longsor, pergeseran tanah, rock fall, hingga banjir, tidak serta merta masyarakat merasakan keamanan dan kenyamanan dalam bermukim. Hasil studi menekankan bahwa kedekatan kawasan permukiman dengan garis sesar, secara sadar membuat masyarakat perlu melakukan upaya preventif agar ketika terjadi bencana kerusakan dapat diminimalisasi. Bahkan, jika ada pilihan untuk berpindah tempat tinggal, dengan penuh kesadaran masyarakat siap menerima.



Capaian

Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan sejak bulan Februari 2025 dengan rincian kegiatan sebagai berikut: a. Survei Pendahuluan bersama tokoh masyarakat pada tanggal 9 Februari 2025. Dalam kegiatan ini dilakukan survei lokasi potensial untuk penanaman pohon berfungsi mitigasi bencana. b. FGD bersama perwakilan masyarakat (Karang Taruna, Ketua RT, dan Komunitas Desa Tanggap Bencana) untuk menentukan strategi pemberdaayaan masyarakat berbasis kebencanaan pada tanggal 9 Februari 2025. c. Penanaman Tahap 1 pada tanggal 20 April 2025 bersama warga Kampung Batu Lonceng (50 bibit) d. Penanaman Tahap 2 pada tanggal 4 Oktober 2025 bersama warga Kampung Pasir Angling (50 bibit). e. Penanaman Tahap 3 pada tanggal 28 November 2025) bersama warga di Observatorium Bosscha (50 bibit).



Testimoni Masyarakat

Kegiatan ini dilakukan dalam beberapa tahap dengan pelibatan aktif masyarakat setempat. Pendekatan rapid Participatory Rural Appraisal (rPRA) sangat membantu dalam pelaksanaan kegiatan dengan ketebatasan waktu, tenaga, dan biaya. Fokus kegiatan pengabdian masyarakat ini pada penanaman beragam jenis pohon baik bambu, kayu, maupun buah sebagai upaya untuk mitigasi bencana terutama longsor dan rockfall. Penanaman dilakukan dalam tiga tahap yang disesuaikan dengan kondisi cuaca dan kesiapan teknis di lapangan, terutama memastikan kesiapan pihak mitra yang akan melanjutkan pemeliharaan pascatanam. Sejumlah 55 bibit pohon ditanam dalam Penanaman Tahap 1 di Kampung Batu Lonceng dan terdata secara spasial (GPS) dengan tingkat hidup 90%. Tahap 2 dilakukan penanaman sejumlah 50 bibit pohon di kawasan Kampung Pasir Angling dengan fokus pada konservasi area mata air. Adapun penanaman tahap 3 sejumlah 50 bibit dilakukan di kawasan Observatorium Bosscha yang menjadi bagian dari area Sesar Lembang. Melalui kegiatan ini, diharapkan menjadi salah satu upaya mitigasi bencana yang dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat Batu Lonceng khususnya dan masyarakat pada umumnya. Melalui kegiatan ini pula diseminasi pengetahuan dan teknologi terkait mitigas bencana berbasis lanskap dapat dilakukan dengan strategi yang mudah dan berdampak.