Hary Febriansyah
Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia, termasuk Jawa Barat, menghadapi tingkat pengangguran terbuka yang tinggi, tertinggi di antara jenjang pendidikan lainnya. Kondisi ini menandakan adanya kesenjangan keterampilan antara kompetensi lulusan SMK dan kebutuhan industri. Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, Program Pengabdian Masyarakat KK SBM ITB 2025 menggelar rangkaian kegiatan bertajuk “Bridging Skills for Tomorrow: Enhancing Vocational Education for Enhanced Market Readiness in Jawa Barat”. Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi kesenjangan keterampilan antara kurikulum SMK dan kebutuhan dunia kerja, menggali kebutuhan keterampilan abad ke-21 yang dipandang prioritas oleh dunia kerja, serta merumuskan rekomendasi intervensi pendidikan vokasi berdasarkan diskusi multi-stakeholder. Pendekatan kegiatan mencakup workshop hybrid (11 Juli 2025) di kampus MBA ITB Bandung yang dihadiri oleh 33–35 guru SMK dari berbagai wilayah Jawa Barat. Selanjutnya, focus group discussion (FGD, 15 Juli 2025) di kampus SBM ITB Jakarta melibatkan siswa SMK, guru, wakil kepala sekolah bidang hubungan industri (hubin), kepala sekolah, praktisi HR (manajer hingga direktur perusahaan), serta perwakilan Kemnaker dan Kemendikdasmen. Hasil diskusi mengungkapkan bahwa sejumlah keterampilan kunci seperti komunikasi efektif, berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, adaptabilitas, dan literasi digital masih kurang dimiliki lulusan SMK, padahal sangat dibutuhkan oleh dunia kerja modern. Rekomendasi yang dihasilkan menekankan perlunya pembaruan kurikulum SMK yang selaras dengan kebutuhan industri, penguatan pelatihan guru dan penerapan metode pembelajaran berbasis proyek untuk mengembangkan soft skills, peningkatan kolaborasi antara sekolah dan industri, serta program pendukung untuk memperlancar transisi siswa dari bangku sekolah ke dunia kerja.
Capaian utama dari program ini meliputi: Teridentifikasinya faktor-faktor penyebab ketidaksesuaian lulusan SMK dengan kebutuhan industri (kurikulum, soft skills, magang, sertifikasi, dll). Tersusunnya daftar prioritas keterampilan abad ke-21 yang perlu dimiliki lulusan SMK (disiplin, komunikasi, kreativitas, literasi digital, kolaborasi). Rekomendasi strategis yang komprehensif untuk pembaruan kurikulum, penguatan kerja sama SMK–industri, dan pelatihan guru berbasis industri.
Mitra yang menerima manfaat langsung dari kegiatan ini adalah para guru SMK, siswa SMK, serta pengambil kebijakan pendidikan vokasi di Jawa Barat. Guru mendapatkan peningkatan pemahaman tentang kebutuhan industri dan strategi pembelajaran adaptif. Siswa memperoleh pembekalan terkait dunia kerja dan pentingnya keterampilan lunak. Pihak industri dan pemerintah mendapat masukan konkret terkait kebutuhan SDM vokasi dan peluang kolaborasi. Secara tidak langsung, program ini berdampak pada peningkatan kualitas lulusan SMK dan daya saing tenaga kerja muda di Jawa Barat.