I Ketut Adnyana
Apoteker merupakan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab memastikan penggunaan obat yang tepat untuk mencapai hasil terapi optimal. Berdasarkan data Ikatan Apoteker Indonesia (IAI, 2023), terdapat lebih dari 60.000 apoteker di Indonesia, sebagian besar bekerja di fasilitas kesehatan primer. Namun, layanan kefarmasian di Indonesia masih belum optimal, dengan fokus utama pada tugas administratif seperti manajemen logistik dan distribusi obat dibandingkan layanan kefarmasian klinis yang berorientasi pada pasien. Seiring waktu, peran apoteker bergeser dari tugas tradisional, seperti peracikan obat, menuju penyediaan Cognitive Pharmaceutical Services (CPS). Pergeseran ini didorong oleh kompleksitas sistem kesehatan dan kebutuhan pasien yang semakin beragam (World Health Organization, 2017). Meskipun demikian, hambatan seperti keterbatasan sumber daya, fokus yang tidak proporsional pada logistik, serta kurangnya integrasi dalam tim kesehatan masih menjadi kendala utama (Van Mil et al., 2017). Kolaborasi antara dokter, perawat, dan apoteker dapat membantu mengatasi tantangan dalam perawatan pasien, seperti rekonsiliasi obat dan edukasi pasien. Model kolaborasi multidisiplin memberikan peluang bagi apoteker untuk berperan dalam manajemen terapi obat, program manajemen penyakit kronis, dan layanan imunisasi (Lounsbery et al., 2017). Di Puskesmas, sebagai fasilitas kesehatan primer yang melayani masyarakat luas, peran apoteker sangat krusial dalam memastikan ketersediaan dan penggunaan obat yang aman dan efektif. Namun, apoteker di Puskesmas sering kali harus menangani berbagai tugas administratif, seperti pengelolaan logistik obat dan pelaporan, yang mengurangi waktu mereka dalam memberikan layanan farmasi klinis kepada pasien. Dengan meningkatnya beban kerja dan kompleksitas sistem kesehatan, diperlukan pemetaan yang jelas terhadap distribusi waktu kerja apoteker di Puskesmas agar kebijakan penguatan layanan farmasi klinis dapat disusun secara lebih akurat. Pendataan jam dan aktivitas kerja apoteker di Puskesmas menjadi sangat penting untuk memahami bagaimana waktu kerja mereka dialokasikan serta mengidentifikasi faktor penghambat dalam pemberian layanan farmasi yang optimal. Dengan data yang diperoleh melalui metode work sampling, dapat dibuat rekomendasi berbasis bukti untuk meningkatkan efisiensi kerja apoteker serta mengembangkan kebijakan yang lebih mendukung peran klinis apoteker. Pengukuran aktivitas apoteker melalui work sampling menjadi langkah strategis dalam memahami distribusi waktu kerja serta mengidentifikasi gap layanan. Dengan data yang diperoleh, dapat disusun strategi peningkatan efisiensi kerja, penguatan layanan berbasis pasien, serta pengembangan kompetensi apoteker komunitas agar lebih sesuai dengan tuntutan sistem kesehatan saat ini. Survey ini akan berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kota Bandung dan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kota Bandung. Survey dilakukan dengan menggunakan aplikasi pada smartphone yang mengukur jam kerja dan jenis aktivitas apoteker.
Terkumpulnya data work sampling satu tahun penuh mengenai aktivitas dan durasi waktu kerja apoteker. Pemetaan distribusi tugas apoteker dalam bentuk diagram persentase durasi aktivitas dan alokasi waktu tahunan. Identifikasi gap pekerjaan kefarmasian Penyusunan rekomendasi berbasis bukti untuk peningkatan efisiensi kerja dan penguatan peran klinis apoteker. Presentasi hasil pada seminar internasional
Apoteker Puskesmas: memahami profil beban kerja dan peluang optimalisasi layanan farmasi klinis. Dinas Kesehatan & BKPSDM: memperoleh data berbasis bukti untuk pengambilan keputusan terkait kebijakan SDM, pembagian tugas, dan perencanaan pelatihan. Masyarakat: Mendorong layanan farmasi klinis yang lebih kuat dan berorientasi pada pasien Institusi akademik: meningkatkan kolaborasi riset dan kontribusi ke penguatan layanan kesehatan primer.